Uli Jamlean: Pemberani dari Tanah Evav

Perawakannya kecil. Ia kurus dengan warna kulit cokelat dan rambut panjang keriting. Namanya Uli. Lengkapnya Juliana Jamlean. Sorot matanya ramah. Begitu saya menyimpulkan saat pertama kali melihatnya beberapa bulan lalu di Pakem, Sleman. Di sebuah pendopo kantor Insist. Malam ini, kami bertemu lagi. Tapi kali ini di Ende, Flores. Saya meminta kepadanya untuk suatu wawancara.

Uli adalah ketua organisasi Nen Mas Il. Satu organisasi anggota Jaringan Baileo yang sudah melakukan pengorganisasian rakyat di Maluku lebih 20 tahun. Jaringan Baileo sendiri adalah bagian dari jaringan gerakan sosial Insist. Sebuah jaringan yang memiliki banyak daerah pengorganisasian rakyat di seluruh Indonesia.

Malam ini, kami dipertemukan oleh satu pertemuan yang difasilitasi oleh FIRD (Flores Institute for Resources Development) untuk berbagi pengalaman mengenai Manajemen Kebencanaan Berbasis Komunitas dari 4 kabupaten.
Continue reading

Orang Kota di Tengah Cerita Orang-Orang Desa

Apa yang sebenarnya kulakukan saat ini? Menikmati diri sebagai kelas menengah dengan segala kemewahannya?

Yah, Laptop dengan segala fasilitas audionya telah membuatku nyaman menulis catatan lapangan saat usai menonton Leonardo de Caprio dan Russel Crow dan kini menikmati suara merdu Morrissey.

Hari sudah malam. Di sudut kanan bawah laptop Toshiba menunjukkan pukul 2:52 AM dan tanggal 14/3/2011. Di rumah panggung ini dua orang petani tertidur setelah (mungkin) lelah menemaniku mengobrol untuk urusan proyek dari Helsinki bernama Sustainable Livelihood in Rural Sulawesi  yang sudah berjalan sekira dua tahun ini. Hawa dingin—melebih kenyaman AC di rumahku yang kubeli tiga tahun lalu dari sedikit hasil dari beasiswa Ford Foundation yang kuterima—membuat suasana malam ini jadi lebih asri.

Lalu apa yang sebenarnya sedang kulakukan saat ini?

Dua petani ini memilih tak pulang ke rumahnya masing-masing dan menemaniku di rumah panggung yang sengaja dibeli untuk sekretariat mereka yang mau berkelompok dan belajar bersama sekaitan dengan proyek ini.

Ah, bukankah aku demikian juga. Aku rela beranjak jauh dari rumah dimana dua anakku yang masih belia dan istriku yang tabah melepasku selalu melewatkan banyak jam setiap harinya tanpaku.

Tapi bukankah aku seorang kelas menengah yang sebenarnya hidup nyaman?

Yah, aku jebolan Institute of Social Studies di Den Haag yang lumayan dikenal luas sebagai universitas terbaik untuk urusan studi pembangunan. Bukankah kini aku menyandang gelar Master of Arts di mana hanya segelintir saja sarjana di Indonesia ini memilikinya?
Continue reading

Cerita Tentang Petani Tompobulu yang Menjual Kacang Tanahnya di Pasar Terong

“Pak Haji, kalau sapi itu talinya dipegang, kalau Pak Haji, kata-katanya!” Manci, petani dari desa Tompo Bulu berujar ketus kepada pedagang dari kota Pangkep.

Pak Haji adalah pedagang yang selama ini membeli komoditas pertanian dari para petani di desa-desa kabupaten Pangkep. Manci demikian kesalnya. Pasalnya, kesepakatan awal sebelum ia mengupas dan mengumpulkan kacang tanahnya, harga beli yang ditawarkan Pak Haji sebesar 11.000 rupiah perkilonya, namun setibanya ia di kota Pangkep dengan 500 kilo kacangnya, rupanya Pak Haji menurunkan nilai belinya menjadi Rp. 10.500,- dengan alasan yang mengada-ada.

Dua tahun kemudian, tepatnya 3 Januari 2011, belasan petani Tompo Bulu mengumpulkan kacang tanahnya di bawah rumah panggungnya masing-masing. Mereka sepakat mengumpulkannya di rumah Manci untuk menjualnya di Pasar Terong di Makassar tanpa melalui pedagang perantara yang kerap mengambil untung lebih besar ketimbang si produsen sendiri, petani!

Continue reading

Pergulatan Hidup di Tengah Bau Asam dan Terasi

 ‘Mallucca’ pi wae’e na ulle malempe’ yang arti bebasnya ‘hanya air keruh yang dapat membuat banjir’. Maksudnya, ‘kalau jujur terus dalam berdagang tidak akan pernah sukses’.

 

Djamaluddin atau akrab disapa Daeng Jama’ adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dulunya Daeng Jama’ mempunyai saudara delapan orang, tetapi karena terkena penyakit semuanya meninggal.  Pada saat itu, bagi keluarga ini, biaya untuk pergi berobat ke rumah sakit sangat mahal sehingga selain hanya berobat di rumah, juga cukup di bawa ke orang orang pintar atau dukun.

Penyebab kematian dari saudara-saudara Daeng Jama’ sangat memilukan. Meraka terkena busung lapar. Memang saat itu kondisi orang tua Daeng Jama’ sangat pas-pasan dan menyebabkan semua anak-anaknya kekurangan gizi akut. Awalnya Daeng adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Tetapi saat ini saudara Daeng yang masih hidup berjumlah tiga orang. Yang kedua ialah Muhadi dan ketiga adalah Abdul Hafid.

Muhadi mempunyai pekerjaan sebagai pedagang telur di pasar Terong. Sedangkan Hafid berprofesi sebagai karyawan di salah satu perusahaan kelapa sawit yang berada di Malaysia.

Orang tua Daeng Jama berasal dari Maros beretnis Bugis. Bapaknya bernama Daeng Nassa dan Ibunya bernama Daeng Ugi. Awalnya sewaktu pemerintah Belanda masih berkuasa mereka adalah petani. Namun, setelah kemerdekaan, karena sulitnya ekonomi petani-petani kecil dan kota Makassar yang terus berkembang membuat keduanya hijrah ke Maccini tahun 1958 dan mengadu nasib di Pasar Terong yang saat itu masih berupa lapak-lapak bambu.
Continue reading

Derai-Derai Air di Pasar Tamalate

Walau pagi terus beranjak. matahari tak jua mencuat. Selangit awan sejak semalam menawannya erat. Alih-alih membebaskan diri dari sekapan awan kelabu. air malah tumpah ruah. Awalnya sekedar garis-garis perak puitis, akhirnya menjadi hujan yang marah. Langit ringkih menampar jejak yang baru tercetak, Mengukir pahatan baru tak berjejak.

Orang-orang yang mencari uang untuk sesuap nasi. Datang silih berganti. Menetap bila nasib begitu baik di jalan Tamalate. Tapi pergi juga seringkali menjadi pilihan tunggal. Armada Pagandeng dari Makassar, Gowa, dan Takalar yang memenuhi jalan Tamalate I di sekitar kampus UNM Fakultas Ilmu Pendidikan sudah ada di sana lebih sejak sepuluh tahun terakhir.

Daeng Kanang, ibu tua beranak sepuluh penuh semangat menceritakan kisah heroik dalam hidupnya. Saat itu awal tahun 2000 saat ia masih menjual di sekitar Puskesmas Kassi-Kassi.

Satuan Polisi Pamong Praja datang bergerombol ke  lapaknya. Mereka bermaksud mengusir Daeng Kanang agar tidak menjual lagi di trotoar itu. Tapi, ia dengan sigap mencegatnya. Dengan logat Makassar yang kental, ia balik memaki-maki Komandan Regu Satpol PP itu. Komandan regu berlagak tenang dengan makian Daeng Kanang. Tapi ia juga tak mau pergi sebelum Daeng Kanang membereskan meja lapaknya. Daeng Kanang tak kehabisan kata-kata.

“Dari mana kalian dapat uang untuk makan kalau bukan dengan memeras rakyat kecil seperti kami!”

Continue reading

Duka Nestapa Pengungsi Timor

Bibirnya berwarna merah. Bila ia meludah maka cairannya juga berwarna merah. Sekejap liur itu lebur dalam resapan tanah kehitaman penuh debu karbon. Rambutnya, seluruhnya berwarna putih. Putih seperti segumpal awan yang bergerak tepat di atas tubuhnya yang ringkih.  Kudung yang menutupi sebagian rambutnyapun seputih awan, namun pucat dilumuri noda hitam dari ratusan usapan jemarinya yang penuh serbuk karbon dari bebatuan mangan di seluruh hari selama ia di tempat ini.

Ia terus mengais bebatuan ini bersama tiga cucunya yang usianya tentu terpaut 60 tahun dari usianya. Memilih kerikil mangan dan mengumpulnya satu demi satu hingga memenuhi embernya. Cucunya lalu akan memasukkan kerikil ke dalam sebuah karung hingga menjadi seberat lima puluh kilogram. Satu meter di depannya, sebuah lubang yang menganga sedalam tiga meter telah tergali oleh seorang pria paruh baya dan dua nyong tanggung berbadan tegap lagi hitam legam warna tubuhnya.

Mangan yang melekat dalam tanah semakin jelas terlihat. Orang-orang ini sudah membayangkan berkilo-kilo batu mangan akan dikumpulkan hingga satu hari ini. Satu persatu sesekop tanah berbatu dilemparkan ke atas tepat di samping nenek dan adik-adik ini. Itulah yang kemudian mereka kais, pilah, dan pilih. Yang tua dan yang masih balita hanya mampu mengais dan memunguti kerikil mangan dan yang kuat memilih, menggali, dan mencongkel mangan di lima lubang yang telah mereka gali sekira satu bulan ini.

Nenek itu, Martina berusia 67 tahun, tiba-tiba tertawa mendengar celoteh seorang cucunya dalam bahasa Tetum yang juga sedang mengais kerikil disampingnya. Dari dalam mulutnya, dua warna itu mencuat, merah dan putih. Sirih, pinang, dan kapur sirih yang dikunyahnya mewujud merah dan di sebagian gigi yang masih tersisa memberi putih, serupa warna bendera dari negara yang sepuluh tahun lalu dipilihnya sebagai tempat untuk tinggal. Ia lalu seperti sedang mengunyah Indonesia.
Continue reading

Semangat Pelayanan di Padang Savana (Pulau Sumba)

Jalan aspal berkelok-kelok membelah hamparan savana seluas lautan. Hanya satu dua mobil melintas menderu meninggalkan debu yang dihempaskannya ke angkasa nan biru. Begitu pula sesekali melintas angkutan antar desa berupa truk yang dilengkapi sejumlah kursi panjang menyerupai bis. Tentu saja ia tak memiliki jendela serupa bis umumnya. Si pengemudi hanya menambahkan tenda dan kursi itu, selebihnya ia adalah truk beroda enam. Muatannya penuh dan beberapa berdiri di bagian belakang truk itu.

Di sebuah rumah alang, sebuah keluarga kecil berkumpul di teras rumah panggung setinggi satu meter. Kecuali anak-anak mereka, selebihnya sedang mengunyah sirih dan pinang. Mulut mereka merah dan terus mengunyah sampai terasa manis. Satu dua kali mereka meludah ke tanah di mana si Bujang, anjing mereka berwarna cokelat, sedang tidur meringkuk nyaman. Di sebelahnya, seekor anak babi terlihat lucu mengendus tanah mencari makan. Beberapa ekor ayam kampung mengganggunya dan ia lari mengibas-ngibaskan ekor kecilnya menuju ke induknya yang berwarna hitam dan gemuk.

Bis truk itu menjauh dan mereka tak lagi memandanginya.

Ini adalah desa Laindeha, kecamatan Pandawai, kabupaten Sumba Timur. Sebuah desa dengan hamparan savana sejauh mata memandang. Mereka memelihara ternak besar dan kecil seperti kuda, kerbau, sapi, kambing, babi dan ayam. Kuda-kuda hanya dilepas bebas di padang ini dan sesekali dicek keberadaannya. Bila beruntung bisa melihat sekawanan kuda ini dari kelokan jalan, maka indah sekali pemandangan desa ini.
Continue reading