GADDE-GADDE MAKASSAR DALAM ANCAMAN EKSPANSI MINIMARKET MODEREN[1]

Oleh: Ishak Salim dan tim AcSI[2]

Pengantar

Makassar adalah kota tujuan. Banyak perantau dari luar daerah datang menetap atau sekedar batu loncatan di sini. Bukan hanya dari propinsi Sulawesi Selatan melainkan dari daerah pedalaman Indonesia Timur. Pendatang dari provinsi ini seperti para paggandeng dari kabupaten Gowa dan Takalar yang setiap pagi meramaikan jalan Poros Gowa – Makassar dengan sepeda atau motornya. Mereka menuju pasar-pasar lokal, menjajakan sayuran hijau dan aneka ikan segar. Di pasar-pasar lokal sendiri yang jumlahnya lebih 50 pasar sudah ada berbagai pedagang dari etnis yang beragam. Untuk menyebut beberapa contoh adalah Enrekang, Pangkep, Wajo, Selayar, Maros, dan seterusnya.
Continue reading

Peliknya Merawat Nyala Kerjasama

MANNANG tak tampak pagi itu ketika saya hendak menemuinya. Ia tengah berburu babi, salah satu perusak utama tanamannya.

Rumah Mannang, pengelola instalasi biogas listrik di Lamporo, bersebelahan dengan instalasi biogas listrik yang dibangun setahun lalu. Saya berharap bisa menemuinya dan menanyakan keadaan instalasi biogas tersebut.

Di awal pendiriannya pada Desember 2010, warga calon pengguna duduk berdiskusi. Mereka membuat beberapa kesepakatan. Fasilitatornya dari SRP Payo Payo. Bila mereka mau mengelolanya secara berkelompok maka anggaran pembangunan instalasi siap dicairkan.

Kesepakatan terbangun di sebuah mesjid usai shalat Jum’at, nyaris setahun lalu. Pembangunan instalasi pun berlangsung. Seorang ahli dari LPTP Solo didatangkan dan beberapa petani dari desa turut membangun sambil belajar.

Singkatnya, instalasi biogas terbangun, lengkap dengan kandang bagi 14 ekor sapi yang siap menyuplai kotoran sapi setiap hari.
Continue reading

Merayakan Kemandirian Energi dI Desa Tompobulu

SEORANG ibu heran melihat perilaku Suleha beberapa hari terakhir. Ia mengambil ‘air hijau’ di belakang rumah tetangga dengan ember berukuran 5 liter, berjalan menuju sawah, lalu menuang seluruh isinya di pintu air—mengalirkan masuk ke sawahnya. Saat itu padinya mulai berbuah.

Suleha tengah mencoba perlakuan berbeda terhadap dua petak sawahnya. Sepetak ia perlakukan dengan racun kimia dan sepetak lainnya ia perlakukan secara organik. ‘Air hijau’ itu adalah slurry atau ampas cair dari kotoran sapi.
Continue reading