Pasar Butung di Suatu Ahad Tahun 2010

Aku membuka lagi sebuah peta Makassar ukuran A noldan menghamparkan di lantai, seperti membentangkan selembar tikar yang tergulung. Di sisi kanan atas peta itu tertera angka 1955. Artinya peta ini sudah berusia 55 tahun. Aku menghitung satu per satu pasar di Makassar pada tahun itu. Yang ada: Pasar Butung, Pasar Tjidu, Pasar Kalimbu, Pasar Baru, dan Pasar Lette.

Aku berusaha mencari nama Pasar Terong, pasar lokal terbesar di Makassar. Tapi yang kutemukan hanya pasar pelelangan ikan di Gusung dan di Kampung Baru. Ah, aku hanya berandai-andai. Pasar Terong belum ada saat itu bukan? Terong baru dikenal pada tahun 1970.

Suatu hari aku mendengar kisah dari Haji Tula, seorang pedagang tua. Ia mulai berdagang di Pasar Kalimbu tahun 1958. Ia berdagang buah saat itu dan hingga kini masih berdagang buah di Pasar Terong. Tapi sekarang ini lebih banyak istirahat. Ia sudah berpinak dan bercucu. Dua orang anaknya merupakan punggawa buah-buahan asal Takalar.

Menurutnya, cikal bakal berdirinya pasar Terong dimulai dari keramaian orang berjualan di Jalan Bayam hingga ke Jalan Bawakaraeng. Belakangan luasan pasar bertambah seiring pertumbuhan kota dan pertambahan penduduk. Sekitar tahun 1965 terjadi kebakaran sejumlah rumah penduduk. Beberapa tahun kemudian, di bekas lokasi kebakaran itu Walikota Daeng Patompo mendirikan bangunan pasar inpres yang kemudian dinamai Pasar Terong.

Tampaknya, meningkatnya urbanisasi pada rentang dekade 60-an ini disebabkan oleh berkecamuknya desa-desa dataran tinggi di Sulawesi Selatan. Pasukan Qahhar Mudzakkar sejak menolak kebijakan militer pusat memekikkan pemberontakan. Desa-desa berkecamuk begitu Militer Jawa datang bermaksud menumpas pemberontakan Qahhar. Para penduduk desa meninggalkan kampung dan masuk kota. Salah satu pilihan yang memungkinkan saat itu adalah hijrah ke Makassar.

(Jika saat itu saya sudah remaja, tentu saya akan memilih berada di pegunungan itu dan berdiri di belakang Qahhar ketimbang di kota ini. Saya percaya bahwa ia memiliki semangat pemberontakan untuk memperbaiki keadaan. Sayangnya Qahhar gagal dan mati tertembak di Sungai Lasolo. Aku tinggal membaca atau mendengar kisah-kisahnya dari belasan orang tua yang pernah kutemui di Desa Tassese di Gowa, Kompang di Sinjai, Barae di Soppeng, Latimojong, dan Palopo di Luwu atau Oloholoho di Kolaka.)

Aku menggulung peta. Hari ini saya bersama teman-teman akan tur ke sejumlah pasar lokal di Makassar. Beberapa waktu lalu aku melihat sebuah foto saat Pasar Butung baru saja rampung dibangun Pemerintah Kolonial Belanda. Bangunannya berupa lods sederhana dan tertata apik. Tidak detail memang. Tapi, setidaknya, bisa dibayangkan pasar ini pasti ramai setiap harinya. Pada tahun itu, pusat kota tepat di kawasan ini, yang terletak tak jauh dari Fort Rotterdam sebagai wilayah kelas satu orang-orang Belanda.

Inilah Pasar Butung, pasar rakyat yang kini jadi pasar grosiran pakaian.

Continue reading

Advertisements

DARI PASAR CIDU DAN KENANGAN PASAR SENTRAL

KAMI akhirnya masuk ke pasar Cidu di hari Minggu pagi ini. Melihat aku membawa kamera, para pedagang mulai berbisik-bisik.

Engka passoting.” Teriak salah seorang dari mereka. Ada tukang shooting katanya.

Sini dule e, soting ka.” Teriak pedagang ikan yang berbaur dengan penjual sayur, rempah-rempah, dan aneka barang campuran.

Tak jauh dari suara tadi ada penjual ‘popcorn’ yang menggunakan lappo’. Mesin yang dirakit khusus untuk memanaskan butiran jagung dalam jumlah banyak hingga meletup satu persatu dalam mesin berbentuk tabung hitam itu. Saat seluruh biji jagung meletup di dalam tabung, maka saat penutup tabung dibuka untuk mengeluarkan popcorn akan menimbulkan suara letusan. Itulah mengapa orang-orang ini menyebutnya lappo atau meletus.

Setelah letusan yang memekakkan telinga itu, kami menyusuri pasar lebih ke dalam dengan berpencar. Pasar ini kecil saja. Jika dihitung jumlah panjang jalan, hanya sekira 200 meter.

Pasar Cidu, seperti kebanyakan pasar lokal yang tidak diperhatikan oleh pemerintah terlihat padat tak tertata. Sampah yang tak terangkut, got yang mampat, genangan air yang menghitam dan aroma sayur atau ikan dan ayam potong yang membusuk menjadi pemandangan sehari-hari.

Continue reading