HIKAYAT KEDALAMAN HIDUP ORANG-ORANG PEDALAMAN

SEORANG LELAKI TUA terbaring sakit di sebuah tempat tidur kayu yang berumur setua dirinya. Kalender di dinding papan bergambar partai politik tertulis 2013. Tepat 77 tahun silam saat ia dilahirkan. Kelahiran yang ditandai rasa was-was kata ayahnya suatu waktu saat ia berusia belasan. Desas-desus tentang sejumlah pengayau yang berkeliaran mencari kepala manusia untuk persembahan bertebaran menyiutkan nyali.

Selalu begitu, saat ada seorang maradika [bangsawan] meninggal, konon mereka butuh beberapa kepala untuk menemaninya di alam kubur. Hari itu, orang-orang menutup pintu rumahnya dan setiap lelaki dewasa akan berjaga-jaga.

Bayang-bayang masa lalu di kampung Namo berkelebatan. Kampung yang terletak di kecamatan Kulawi yang berbatasan dengan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Continue reading

HIKAYAT PEROKOK TUA MINAHASA

Namanya Bernard Welley, umur 72 tahun. Ia tinggal di desa Kolongan atas, kecamatan Sonder, kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Sewaktu aku menanyakan kapan pertama kali ia merokok, dengan bangga ia mengatakan,

“saya sudah merokok sejak SD!”

Aku tidak terkejut mendengarnya. Ini adalah fenomena yang banyak terlihat di desa-desa di Indonesia.

“Apakah bapak pernah sakit karena alasan rokok?” tanyaku.

“Tidak! Paling-paling saya sakit kalau sedang berada di hutan, Malaria.” Tawanya meledak karena ia tahu tak ada hubungan merokok dengan sakit malaria. Continue reading

HIKAYAT SEORANG ‘PALLAPI’ ARO’

Di usia 4 tahun ayah La Beddu meninggal. Saat itu, awal musim hujan di bulan Oktober 1952 baru saja turun. Salah satu kampung di Sidrap di jazirah Selatan Sulawesi, kabar duka itu membahana. Kakeknya, seorang guru mengaji di kampung itu memilih merawatnya. Ibu Beddu, I Nurung adalah anak perempuan gurutta—guru kita.

Di sana ia memiliki seorang kakak sepupu yang usianya terpaut sepuluh tahun. Namanya La Huseng. Sebagaimana gurutta mencintai I Nurung, yang baru ditinggal mati suaminya, si kakek juga amat menyayangi cucunya. Itulah mengapa guru berpesan kepada La Huseng agar menjaga La Beddu. Menjadi Pallapi aro atau pelindungnya Beddu dalam budaya Bugis. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [3]

DANIEL DHAKIDAE: Menjadi Lebih Sekadar Pembaca Penikmat

Pada suatu hari di bulan April 1983. Tepatnya tanggal 16, M. Dawam Rahardjo, Ismid Hadad, dan Daniel Dhakidae diminta menghadap oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta. Ketiga cendekiawan kawakan Indonesia ini adalah pengelola Majalah Prisma, media rujukan dari banyak kaum intelejensia di Indonesia. Staf Kejaksaan Tinggi menginterogasi ketiganya.

Menurut penilaian Departemen Penerangan atas beberapa terbitan majalah Prisma era 1980an, majalah ini dianggap mempopulerkan beberapa tokoh kiri. Pandangan pihak kejaksaan bahwa Prisma sedang berupaya menggiring opini masyarakat untuk menerima kehadiran kembali Partai Komunis Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut seperti Cornel Simanjuntak dalam Prisma, No.2, Februari 1982; S.M. Kartosuwiryo dalam Prisma, No.5, Mei 1982; Aidit dalam Prisma, No.7, Juli 1982; Oerip Soemohardjo dalam Prisma, No.9, September 1982; dan tulisan Jacques Leclerc dalam Prisma, No.12, Desember 1982 yang berjudul “Aidit dan Partai Pada Tahun 1950” menjadi rujukan pihak Kejaksaan. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [2]

BERSIHAR LUBIS: Pewarta yang membangun ‘theater of mind’ di kepala pembacanya.

Saat sarapan pagi, suasana ruangan mulai ramai. Dari balik dinding kaca kulihat seorang lelaki paruh baya berkemeja berwarna krem yang lembut. Wajahnya khas Batak. Begitu beberapa panitia menyambutnya dan kudengar suaranya lurus dan lugas, berdialek Batak. Kupastikan lelaki ini adalah Bersihar Lubis. Namanya tertera di lembar jadwal pelatihan yang dibagikan panitia. Aku tak mengenal wartawan senior ini. aku bertanya-tanya, wawasan kepenulisan seperti apa yang nanti akan ia bentangkan.

Bagi siapa saja yang pernah membaca artikel di Koran Tempo, edisi 17 Maret 2007 yang berjudul “Kisah Interogator yang Dungu” tentu tahu pasti siapa penulisnya. Ya, dialah Bersihar Lubis. Continue reading