HIKAYAT SEORANG ‘PALLAPI’ ARO’

Di usia 4 tahun ayah La Beddu meninggal. Saat itu, awal musim hujan di bulan Oktober 1952 baru saja turun. Salah satu kampung di Sidrap di jazirah Selatan Sulawesi, kabar duka itu membahana. Kakeknya, seorang guru mengaji di kampung itu memilih merawatnya. Ibu Beddu, I Nurung adalah anak perempuan gurutta—guru kita.

Di sana ia memiliki seorang kakak sepupu yang usianya terpaut sepuluh tahun. Namanya La Huseng. Sebagaimana gurutta mencintai I Nurung, yang baru ditinggal mati suaminya, si kakek juga amat menyayangi cucunya. Itulah mengapa guru berpesan kepada La Huseng agar menjaga La Beddu. Menjadi Pallapi aro atau pelindungnya Beddu dalam budaya Bugis.

Suatu hari, saat usia La Beddu beranjak belasan, ia jatuh hati dengan seorang gadis kampung. Parasnya ayu dan berperangai ceria. Keduanya suka berjalan-jalan bersama. Saat cinta semakin tumbuh di hati Beddu,  gadis itu mengabarkan bahwa orang tuanya baru saja menjodohkannya dengan La Naware’, tetangga dan kawan sepermainan mereka.

La Beddu merasa patah hati, namun tak mampu membendung rindunya. Lalu, mereka tetap memilih bepergian bahkan berpotret bersama di sebuah studio di kota.

Suatu hari, La Naware’ yang sedang menggembalakan kerbau orang tuanya mendapati keduanya. Ia naik pitam dibakar api cemburu. La Beddu ciut hatinya melihat kemarahan La Naware’ dan memilih pulang. Ia lalu menceritakan kemarahan La Naware’ itu kepada La Huseng.

La Huseng mendongkol dan mengepalkan tangannya. Ia sudah berjanji kepada kakek untuk menjaganya dan segera turun menjemput amarah La Naware’. Sore itu, langit belum juga berubah senja. Ia mendapati Naware’ masih bersama dua kerbaunya. Ia berlari bertelanjang kaki. Lumpur di sepanjang lorong bercipratan begitu tapak kakinya menjejak berat. Tak sedikitpun rasa gentar saat ia melihat La Naware’ yang bertubuh lebih besar darinya.

Begitu La Naware’ menyadari kedatangannya, ia bergegas bersiaga. Ia tahu La Huseng akan meninjunya karena mengganggu La Beddu sesaat lalu. Hanya sekian detik keduanya sudah bergumul bermandikan lumpur. Kedua kerbau mengacuhkan perkelahian itu. Asyik memamah dedaunan dari sebuah pohon kelor. Keduanya beradu jotos dan darah mengucur dari hidung Naware’. Tubuh La Huseng kecil, ramping dan lincah. La Naware’ yang berat tak bisa bergerak leluasa.

Tiba-tiba beberapa orang yang baru pulang dari sawah sudah berebutan menarik keduanya. Baju mereka kecokelatan penuh resapan lumpur. Ada aroma tahi kerbau tercium pada tubuh keduanya. Orang-orang yang memeluknya tak menghiraukan La Huseng meronta. La Naware’ sudah lebih menguasai diri. Ia menyeka hidung dengan tangan kirinya. Ada sisa darah membekas di lengannya. Nafasnya tersengal-sengal kelelahan.

Image

[sebuah rumah panggung Bugis]

Malam tiba. Kedua keluarga yang anak cucunya berselisih sudah berkumpul di rumah panggung orang tua Naware’. Dari luar, dua obor tamu menempel di beranda atas. Apinya baru saja dipadamkan dan sisa asap mengepul dari  celah gulungan kain menghitam masih terlihat meliuk-liuk. Aroma minyak tanah menyeruak di udara sekitarnya. Dari lambung rumah, orang-orang bisa mendengar suara jangkrik mengerik bersahutan bercampur dengan suara kodok bertalu-talu menikmati hujan singkat selepas magrib tadi.

Di kampung ini, semua keluarga menghormati guru mengaji mereka. Gurutta ada di antara mereka dan dengan mudah menekan amarah orang-orang tua. Perselisihan dua remaja itu tak berlanjut menjadi perselisihan dua keluarga.

Sejak itu, La Beddu tak pernah lagi berjalan bersama dengan gadisnya. Ia pun merelakannya dan berterima kasih pada La Huseng, pelindungnya.

Tak lama setelah kejadian itu, neneknya meninggal. Gurutta kehilangan pendamping setianya. Orang-orang kampung turut berduka.

Selang dua tahun kemudian di tahun 1963, gurutta memutuskan menikah lagi dan memilih tinggal bersama istrinya di kota. Sebelum pergi ia berpesan kepada I Nurung, ibu La Beddu kalau ia akan tetap melindunginya. Ia merencanakan pernikahan anaknya dengan dengan La Huseng. La Huseng yang teramat hormat kepada gurutta, menuruti permintaannya.

La Beddu mendongkol bukan kepalang. Orang yang selama ini menjadi pelindung atau tukang pukulnya kini akan menjadi ayah tirinya. Ia tak bisa menerima kenyataan itu. Begitu Kakek dan ibunya pindah ke kota, ia memilih tetap tinggal di kampung. Belakangan, ia memutuskan bekerja pada kakeknya yang lain di Pare-Pare. Ia berjualan garam di Cappa’ Ujung. Nama usaha dagangnya ‘Gudang Garam Mappasitujue’.

Sejak itu, ia hampir tak pernah lagi menemui ibunya sampai akhirnya ia ke Jakarta pada 1966. Ia merantau.

Di Jakarta ia memulai hidup sebagai kuli bangunan selama bertahun-tahun. Perlahan-lahan, kepercayaan pihak perusahaan atas kinerjanya meningkat. Tahun 1974, saat peristiwa Malari membakar Jakarta, ia menyelamatkan uang perusahaan yang dipercayakan kepadanya. Saat itu ia baru pulang dari Bank menarik berjuta-juta gaji buruh di bulan Januari. Dalam perjalanan, mobil Mitsubishi yang ia kemudikan dihadang massa. Ia lari membopong sekantung uang dan menjauh dari keramaian di mana mobil itu dalam sekejap sudah hangus terbakar.

Ia lalu dipercaya komisaris perusahaan mengelola sejumlah proyek dan mulai berkeliling di wilayah-wilayah pertambangan.

Tahun 1976, saat ia sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak, barulah ia mengirim kabar dan beberapa lembar foto keluarganya kepada ibunya. Ia juga mengundang ibu dan kakeknya berkunjung ke Jakarta. Dua buah tiket pesawat ada di antara lembar-lembar photo itu.

Di Jakarta, ia hanya dua hari bersama ibu dan kakeknya. Selebihnya, 15 hari ibunya di Jakarta ia berada di Sorong, Irian Jaya.

Kedongkolannya kepada La Huseng masih dipanggulnya. Begitu jengkelnya, saat kakeknya meninggal di tahun 1979 menyusul ibunya 7 hari kemudian ia datang tanpa sedikitpun mau menyapa apalagi menemui La Huseng. La Huseng pun tak ingin memaksakan diri. Ia tetap mengurusi pemakaman istrinya. Bahkan La Huseng tetap bersabar saat beberapa kerabat menyampaikan kalimat candaan miris La Beddu tentangnya.

“Ingin rasanya La Beddu memasukkan La Huseng dalam karung dan melemparnya ke laut lepas di mana ia menambang minyak!”

Huseng tak memedulikannya. Ia teringat petuah Gurutta. Sebuah Malliung Tellu Bettuanna. Pesan yang memiliki makna berlapis.

Tarona riala jakka, ututtung ulolangi, ri lampa weluanna”

Makna yang bisa Huseng tangkap dari petuah gurutta ini adalah ‘mungkin aku buruk dan jahat di matamu, tapi ketahuilah, ini semua kulakukan demi kebaikan hidupmu’. Itulah yang menjadi prinsip seorang pelindung, seorang pallapi aro.

Kini, La Beddu sudah semakin kaya dan mulai beranjak senja. Usianya sudah 60 tahun. La Huseng tetap bersahaja namun juga menua. Ia memiliki dua cucu dari anak tunggalnya dari istri kedua. Bersama ibu La Beddu, istrinya pertamanya, ia tak memiliki seorang anakpun.

Di Jakarta, kekayaan rupanya membuat La Beddu bergaul dengan petinggi politisi dan militer. Hobi bermain golf yang mempertemukan dan mengakrabkan mereka.

Pertengahan November 2008, La Beddu yang sudah merasa sangat jauh dari tanah kelahirannya mulai memimpikan sebuah reuni yang indah. Ia mulai menyusun beberapa rencana pertemuan di beberapa tempat di mana ia bertumbuh.

Pada reuni di Sidrap, hanya La Huseng yang tak ia undang. Ia bahkan menemui La Naware’ dan istrinya, kekasih masa kecilnya yang kini menyandang gelar hajjah. Mereka tinggal mengenang masa lalu masing-masing. Betapa terobati rindunya.

Menjelang kepulangannya ke Jakarta, ia mampir di rumah seorang kerabatnya, I Rani. Dulu, saat belum ke Jakarta dan masih tinggal di Cappa’ Ujung, Pare-Pare, La Beddu tinggal di rumahnya. Kebetulan, enam tahun sebelum kematian I Nurung, giliran I Rani menumpang tinggal di rumahnya bersama La Huseng di kota.

Saat berdua saja dengannya di ruang tamu, iseng La Beddu bertanya, bagaimana keadaan ibunya dan La Huseng saat tinggal bersama.

I Rani merasa menemukan momentum menjelaskan sebuah kesalahpahaman yang sudah begitu lama diidap sahabat yang juga kerabatnya ini. Ia tahu, banyak keluarga atau kerabat tak cukup berani menyampaikan kebenaran ini. Mungkin juga karena mereka memilih bermasa bodoh. Berpuluh-puluh tahun Beddu terlepas dari ikatan keluarga dan masa lalunya.

“Sewaktu saya serumah dengan ibumu, sungguh, tidak ada orang yang demikian baiknya terhadap ibumu selain La Huseng.” La Beddu berdegup jantungnya mendengar kalimat pertama itu.

“Tidak pernah sekalipun saya dengar La Huseng berkata buruk, mengejek, apalagi menyia-nyiakannya,” katanya penuh tekanan emosional. I Rani menyampaikan kebenaran dengan sejujur-jujurnya. Ialah orang yang paling tahu keadaan kedua orang yang sudah dianggap orang tuanya itu.

“Bahkan saat ibumu sakit hingga meninggalnya.” I Rani tak bisa menahan air matanya. Ia ingat semua kebaikan dan kesabaran La Huseng merawat I Nurung.

“Sedangkan kamu itu Beddu, kamu tinggalkan ibumu dan tidak pernah menjaga ibumu. Bahkan begitu lama tak memberi kabar. Nanti setelah mendapat seorang perempuan barulah kamu kirim foto.” Beddu merasakan air mata menggenang di matanya seiring rasa sakit yang mulai meremas hatinya.

“Bertahun-tahun La Huseng menjaga ibumu, Beddu.”

Beddu tak kuat mendengar kata-kata selanjutnya. Ia berujar lekas, “Kalau sudah begini saya harus bagaimana, Rani?” Ia menenggelamkan wajahnya kepada luasan kedua telapaknya. Kepalanya naik turun seirama dengan isak tangisnya yang tertahan-tahan.

I Rani melanjutkan, “jika kau tidak minta maaf sama La Huseng, maka kau akan berdosa. Bukan kepada Huseng, tapi kepada ibumu, Beddu.” I Rani duduk di sampingnya.

Saat emosi sudah semakin mereda dan air mata tak lagi berlelehan. I Rani menelpon La Huseng. Ia bilang ada seorang ingin bertemu dengannya. “Harap jangan keluar rumah dulu.”

La Huseng mengiyakan, ia tak punya bayangan siapapun.

Berangkatlah keduanya menuju kota.

Di dalam mobil sedan milik kawan karib La Beddu, seorang perwira tinggi di Pare-Pare, I Rani mengingatkan pesan gurutta yang pernah ia dengar dari La Huseng.

“Kunikahkan I Nurung dengan La Huseng, karena saya mau La Huseng menjaganya!”

La Beddu terkenang masa kecil. Terbayang saat ia dari balik jendela rumah melihat La Huseng bergulat di lorong kampung mereka yang penuh lumpur dengan La Naware’. Ia sadar, La Huseng benar-benar seorang pallapi aro-nya.

Kini ia meratapi kebodohannya. Betapa panjang ia pendam dendam kepada Huseng. Betapa bodoh ia tak bisa melihat ketulusan Huseng untuk juga menjadi pelindung ibunya.

Gerimis mulai jatuh di sepanjang jalan menuju Pangkajene. Di depannya, dua motor pengawal mobil perwira meraung-raung di tengah hatinya yang lengang[]

Advertisements

6 thoughts on “HIKAYAT SEORANG ‘PALLAPI’ ARO’

    • terima kasih, daeng Suryadin, sudah berkunjung dan tentu saja upaya-upaya menghidupkan budaya-budaya kita oleh daeng masih jauh lebih besar ketimbang sekadar tulisan ini 🙂

  1. mantaff, yg berkesan galigo-nya yg menjadi prinsip la husen,…..tarona riala jakka,ututtung ululangi, rilampa weluan’na,……

    • Memang élong maliung bettuanna’ diartikan ‘lagu yang dalam maknanya’ (maliung berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’). Dengan kata lain, élong ini adalah puisi dengan makna tersembunyi. Sebagaimana jenis élong lain, élong maliung bettuanna pun menggunakan simbol, matra dan bentuk khas. Tetapi jenis élong ini memiliki satu perbedaan yakni penggunaan crypto-language yang sangat khas yang disebut Basa to Bakke’ [mengutip tulisan M. Aan Mansyur].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s