HIKAYAT PEROKOK TUA MINAHASA

Namanya Bernard Welley, umur 72 tahun. Ia tinggal di desa Kolongan atas, kecamatan Sonder, kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Sewaktu aku menanyakan kapan pertama kali ia merokok, dengan bangga ia mengatakan,

“saya sudah merokok sejak SD!”

Aku tidak terkejut mendengarnya. Ini adalah fenomena yang banyak terlihat di desa-desa di Indonesia.

“Apakah bapak pernah sakit karena alasan rokok?” tanyaku.

“Tidak! Paling-paling saya sakit kalau sedang berada di hutan, Malaria.” Tawanya meledak karena ia tahu tak ada hubungan merokok dengan sakit malaria.

Bernard Welley, 72 tahun

“Saya ini perokok, tapi saya juga minum kopi. Kopi mengandung kafein dan kafein itu mampu mengalahkan pengaruh nikotin dalam tubuh.” begitu keyakinannya.

Bernard memang tak merasa dirinya sakit walau merokok dalam jumlah besar. Bahkan dirinya merasa sehat dan segar bugar hingga diusia tuanya sekarang ini. “Apa sih makna sehat bagi bapak?” Aku berusaha mencermati pandangan orang tua ini. Ia mengatakan bahwa makna sehat itu adalah tidak sakit-sakitan. Untuk memenuhi hidup sehat itu kita harus memenuhi gizi dalam tubuh. Syaratnya sederhana saja, minum air yang banyak. Lalu perhatikan pola makan. “Hingga sekarang ini saya masih memperhatikan waktu makan saya seteratur mungkin.

Misalnya, saya makan pagi setiap pukul 7 dengan memperhatikan menu, apakah saya makan nasi atau penganan saja. Banyak orang makan tidak teratur.” Demikia ia menjelaskan sambil sesekali menghisab asap rokok kreteknya dalam-dalam.

Sehari-harinya ia memang bukan petani, tapi di masa mudanya ia harus menghidupi dirinya di lahan pertanian. Di waktu zaman revolusi Soekarno, ia adalah pengurus CGMI dan menjadi penggerak pemuda untuk meneruskan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, malang menimpa hidupnya saat pecah gerakan 30 September 1965 di mana ia dan banyak rekan dan anggota keluarganya ditangkap dan dipekerjakan secara paksa oleh baik pihak militer maupun pemerintah hingga tahun 1980.

Kini, ia dikenal sebagai seorang pengorganisir petani yang tergabung dalam Forum Solidaritas Petani Cengkeh (FSPC) Sulawesi Utara. Dalam upayanya memperjuangkah ketetapan harga yang sesuai bagi pekerjaan bertani ia bersama puluhan ribu petani cengkeh pernah membawa tuntutan mereka ke kantor Gubernur dan kantor DPRD Sulut di sekitar tahun 2005. Walaupun tuntutan penetapan harga yang adil itu hingga kini tidak pernah ditetapkan oleh Gubernur, ia dan puluhan ribu petani sudah membuktikan bahwa petani punya kekuatan, punya solidaritas untuk bersatu.

“Selain urusan pangan, yang terpenting lagi selain pola makan adalah pikiran kita harus selalu aktif. Misalnya melalui membaca, menonton berita-berita politik, dan olah raga jalan dan lari yang masih sering saya lakukan.” Lanjutnya. Ia berdiri, bermaksud memperjelas sesuatu. “Tapi ingat, bila sedang olahraga perhatikan gerakan tubuh. Misalnya, kita sedang berlari, bila kaki mengayun ke atas maka tarik nafas dan begitu menjatuhkan kaki kita membuang nafas.” Ia mencontohkan. Ini penting bagi keteraturan gerak tubuh katanya.

Lain lagi dengan Oma Timkuan, umur 76 tahun, telah merokok diusia 15 atau sekitar tahun 1950. Rokok pertamanya adalah Escord, Commodore, dan Bentoel. Saat itu ia masih bersekolah di sekolah rakyat (SR), sehingga ia kerapkali dimarahi oleh gurunya. Bahkan, di masa pergolakan Permesta, rokok dibuatnya sendiri dari daun cengkeh. kini, rokok favoritnya adalah Surya dan Sukun. Menurut Oma, merokok adalah teman di saat lelah bekerja di kebun. Saat usianya masih remaja, ia adalah petani yang selain merawat cengkeh, juga menanam padi, jagung, dan umbi-umbian. Saat dirinya masih remaja, ia menempuh jalan 7 kilometer setiap harinya menuju kebunnya, dan bila kelelahan maka ia akan merokok menikmati istirahat.

Saat aku bertanya mengenai kondisi kesehatannya, ia mengatakan bahwa tubuhnya sehat-sehat saja. Terkadang memang batuk, namun tapi itu hanya karena faktor cuaca saja. Pernah suatu waktu saat ia telah berusia senja, ia berusaha untuk berhenti merokok. Setiap ia hendak merokok ia mengulum permen mint Polo. Begitu seterusnya hingga dua minggu. Rupanya, ia tak sanggup meneruskan. Ada efek lain yang dirasakannya bila ia tidak merokok. Efek permen mint tersebut berimplikasi pada lambungnya dan membuatnya menderita sakit perut semacam maag. Ia memikirkan kembali niatnya untuk berhenti merokok. Menimbang-nimbang. Akhirnya memutuskan untuk berhenti berusaha berhenti merokok. Ia terus saja merokok bahkan hingga hari ini.

Merokok kretek bagi banyak petani memang tidak begitu berpengaruh bagi kesehatannya, setidaknya demikian yang mereka rasakan. Aktifitas fisik yang setiap hari mereka lakukan telah membantu ketahanan fisik mereka terhadap implikasi buruk dari merokok. Oma sejak dulu ke kebun untuk membersihkan area pohon-pohon yang telah orang tua dan dirinya tanam di masa puluhan tahun yang lalu. Ia juga masih terus menanam tanaman baru untuk menambah komoditas pertanian di mana ia menggantungkan hidup keluarganya. Ia mencangkul, memaras, mengasapi pohon-pohon untuk mengusir serangga dan hewan pengganggu lainnya. Ia, dan bagi banyak petani kebun lainnya di desanya dan desa sekitarnya selalu mapalus dan bergembira menikmati hidup saling tolong menolong di kampung.

Di desa Kombi, kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa, bukan hanya Oma seorang diri perempuan yang merokok. Umumnya para gadis, ibu muda, dan tanta serta generasi Oma sudah merokok dan sangat menikmati sore berkumpul sesama sambil menghisap kretek.

Dari perbincanganku dengan beberapa pedagang yang memiliki toko kelontong, rokok memang adalah komoditas yang paling laris di desa ini.

Seorang perempuan remaja menghitung secara manual. Ia menemukan bahwa terdapat 81 perempuan merokok di Selolongan (Jaga II, setingkat dusun) yang merokok dari total 143 perempuan di desa ini. ia mengidentifikasi gadis, ibu muda, tanta, dan oma-oma yang tidak merokok hanyalah 42 orang. Ia menghitung jumlah anak-anak perempuan hanya dikisaran 20 anak saja.

Jadi secara kasar dapat disebutkan jumlah perempuan di luar usia kanak-kanak adalah 123 orang dan dengan jumlah perokok perempuan 81 orang maka prosentase perempuan perokok adalah 66%. Bila disamaratakan secara keseluruhan di desa ini, dengan jumlah perempuan adalah 611 di mana usia anak-anak perempuan adalah 85 anak, maka dari 611 – 85 adalah 526 perempuan berusia remaja ke atas. Bila merujuk pada jumlah 66% di dusun 2, maka jumlah kisaran perempuan merokok di desa Kombi yang berpenduduk total 1300 adalah 347 orang.

Sebagai petani cengkeh, Oma juga menikmati masa senang saat harga cengkeh mencapai puncak harganya di masa Gus Dur di tahun 2001. Rumah berbahan kayu (knock-down) di beli Oma seharga Rp. 28,000,000,-, menyekolahkan anak-anak dan cucu-cucu ke jenjang pendidikan lebih tinggi (seorang diantaranya sedang studi di Bali), dan membeli sebuah mobil Corolla yang telah dijualnya saat harga cengkeh kembali turun.

Bagi Oma, harga cengkeh yang menguntungkan petani ini adalah obat kekecewaannya yang mendalam pada masa Tommy Soeharto mengontrol harga cengkeh melalui BPPC. Saat itu, di tahun 1997, Oma memiliki jumlah cengkeh 3 ton yang ia bawa ke PUSKUD di Manado melalui seorang perantara yang bernama Albert, namun malang tak dapat ditepisnya, rupanya ia ditipu oleh perantara itu dan memberi kabar bahwa seluruh cengkehnya terbakar dalam salah satu gudang. Oma tidak yakin bila cengkehnya benar-benar terbakar saat itu, namun ia juga tak punya daya memperjuangkan hak miliknya.

Jadi, bila saat itu harga cengkeh Rp. 10,000,- maka uang Oma yang raib adalah Rp. 30,000,000,-. Bayangkan bila saat itu harga cengkeh Rp. 50,000,-, maka total uang Oma sebenarnya adalah Rp. 150,000,000,-. Saat kutanya apakah Oma menangis saat itu, ia hanya berujar ringan, “So parcuma, biar mo manangis kita pe cingke nyanda mo bale.” Ia menghisap lagi Sukunnya.

Demikianlah, merokok bagi banyak orang Minahasa adalah bagian dari kehidupan mereka. Ia tak melulu berurusan dengan urusan kesehatan dan pendapatan keluarga. Merokok adalah teman, merokok hanyalah sekedar menghisap tembakau dan cengkeh, tak lebih. Ia tak selalu berdampak pada sakit, dan berkaitan dengan urusan kesehatan, orang-orang ini punya cara dan habit-nya sendiri dalam menjalankan pola hidup sehat, yakni kerja keras dan berpikir positif. Bahkan bagi Opa Mentu (67) di Tanawangko, merokok adalah pembangkit semangat. Ia rutin membersihkan kebun cengkehnya. Ia adalah petani tulen, bukan sekedar memiliki lahan dan mengupah orang untuk mengerjakan lahannya dan tinggal di rumah menghembuskan gumpalan demi gumpalan asap dari mulutnya.

Opa Mentu sangat bersemangat. Usia senjanya tak menunjukkan kesenjaan tubuh, pikiran, dan semangatnya. Malah, bila tidak merokok maka ia kehilangan inspirasi dalam bekerja. “Kalau oma lupa bawakan rokok kretek Opa maka Opa akan minta Oma untuk kembali ke rumah mengambilnya. Opa benar-benar tidak bisa menikmati bekerja di kebun tanpa menghisap rokok.” Demikian Opa berapi-api menunjukkan betapa sehat dirinya dan betapa bersemangat ia menikmati hidup sebagai petani. Kalau sedang istirahat bekerja di kebun, sambil merokok seringkali timbul ingatan akan pekerjaan yang terlupa. Kalau sudah begitu, ia akan lekas-lekas bangkit dan menyelesaikan pekerjaannya. Menutup perbincangan kami tentang merokok, ia katakan ada istilah orang Minahasa, “habis batu-bara kereta api tak bisa jalan.” Kami semua tertawa dan seperti tertular oleh semangat juangnya.

Sepulang dari bertemu dan berbincang dengan Opa Mentu, terngiang-ngiang ajaran Paracelsus bahwa “tidak ada racun di dunia, yang ada adalah dosis yang tidak benar”[].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s