JEJAK TEMBAKAU DALAM HIDUPKU

[sebuah cerpen]

Aku punya 7 hari dalam seminggu. Ayahku hanya punya lima hari di sepanjang hidupnya. Ia seorang pekerja Tembakau Bugis di Makassar.

Dalam bahasa kami, tembakau bugis adalah terjemahan dari ico ugi. Ico ugi ini adalah Rokok Bugis yang berbeda dengan Rokok Jawa, Kretek. Kalau rokok Jawa saat diisap mengeluarkan bunyi keretek, sementara rokok Bugis mengeluarkan bunyi kerutup.

Tapi bukan soal bunyi saja yang membedakan rokok Bugis dengan rokok Jawa. Aroma dan rasanya juga jauh berbeda. Jika kretek beraroma cengkeh yang pedis, sementara ico ugi beraroma gula merah yang harum.

Jika saat aku kecil, diusiaku yang belia, ico ugi diisap oleh nyaris seluruh perokok bukan hanya di Sulawesi bagian selatan, namun juga hingga ke bagian tengah dan tenggara. Bahkan menurut ayahku, tembakau buatannya pernah dikirim ke tanah Papua.

Tapi itu di tahun 1970 – 1980-an. Sudah lebih 40 tahun yang lalu. Kini hanya sedikit saja pengisapnya. Tinggal beberapa nelayan dan petani di Sulawesi Selatan, Barat dan Tengah saja. Rokok Jawa yang beraroma rempah dengan kemasan yang jauh lebih praktis membuat satu persatu perokok beralih merk.

Ayahku bekerja di perusahaan Tembakau Bugis Adidie di Makassar. Anak-anak muda tak tahu lagi ico ugi Adidie ini. Sebutannya asing di sepasang telinga mereka. Tak seperti Sampoerna, Gudang Garam atau Djarum yang sudah semakin akrab dengan bibir perokok. Konon, nama Adidie merupakan pemberian dari pelanggan setianya di Palu. Adidie yang berarti lidi atau tulang daun nyiur yang digunakan mengikat tabung bambu di mana tembakau disimpan dan diasapi.

Tapi ayahku bukan pemilik perusahaan tembakau Bugis Adidie ini. Ia hanya pekerja tembakau disepanjang usia muda hingga masa senjanya.

Pemiliknya adalah Haji Saide. Ia seorang pebisnis ico yang lihai. Yah tentu saja ia pandai. Jika tak pandai tentulah usaha iconya tak akan bertahan hingga sekarang ini, di tahun 2013 di tengah gempuran kretek, rokok putih, dan kampanye anti tembakau yang massif. Ia sudah memulai usahanya sejak setengah abad yang lampau dan mulai mendirikan Perusahaan Adidie pada tahun 1967.

Haji Saide masih hidup diusia sekitar 80 tahun, Ia masih mengisap tembakau bugisnya, tapi bukan lagi melintingnya sendiri, kebetulan seorang anaknya membuatkannya dalam bentuk kemasan ala rokok Jawa di mana ia tinggal menyalakan dan mengisapnya.

Sebagaimana Haji Saide yang tetap mempertahankan perusahaan Adidienya, ayahku juga tetap bertahan bekerja sebagai pekerja tembakau.

Sewaktu ayah masih kecil, ayah tinggal di sebuah desa di Cabbenge, kabupaten Soppeng. Katanya, dulu kakekku seorang pengusaha ico ugi. Ada banyak usaha tembakau bugis rumahan saat masa jaya tembakau ini di Soppeng. Mereka hidup berkecukupan dengan memiliki seperangkat alat dan juga tenaga kerja untuk membuat dan memasarkan ico ugi. Kami juga punya sebidang kebun yang ditanami tembakau dan kali lain ditanami jagung atau kacang hijau. Dari kakeklah ayahku belajar bagaimana membuat ico ugi. Sampai suatu hari usaha kakek bangkrut dan ayah kehilangan pekerjaan. Ia lalu ke Makassar menemui kawan kecilnya, Saide.

Setelah berkeluarga, kami tinggal di rumah besar Haji Saide bersama pekerja-pekerja lainnya yang berjumlah belasan keluarga. Haji Saide terkenal amat kaya karena usaha tembakaunya dan menghidupi banyak keluarga petani tembakau, pembuat gula merah, pencari bambu, dan tentu saja pengecer ico ugi di banyak tempat di wilayah pemasaran rokok Bugis ini.

Jika Haji Saide memiliki banyak harta material dan keluarga besar, maka ayahku hanya punya aku. Anak lelaki satu-satunya tanpa ibu. Ibuku meninggal saat aku berusia lima tahun.

Aku menandai perjalanan hidup ayahku bukan dengan hari senin, selasa atau rabu dan seterusnya. Ayahku hanya punya lima hari dalam hidupnya. Hari-hari ia bekerja di perusahaan tembakau bugis yang besar ini. Ia bekerja dengan satu tim kerja—dari lima kelompok yang ada, yang kompak yang sekarang masih hidup dan tentu sudah menua dengan beberapa anak yang seusia denganku dan cucu-cicit yang lucu.

Dalam waktu lima hari, tim pekerja ayahku menghasilkan 261 tabung bambu berisi 40 bulatan tembakau pada setiap tabungnya. Kami menyebut tabung itu dengan bahasa Bugis, Timpo. Jumlah timpo ini sesuai dengan kapasitas ruang pengasapan timpo di pabrik ini.

Pada hari pertama, ayahku dan kedua kawannya mulai bertugas. ada yang menyiapkan daun kelapa (daukkaluku) dengan cara memisahkannya dari tulang daun nyiur (lidi). Daunnya akan menjadi pelapis bagian dalam timpo dan tulang daunnya akan diolah menjadi sapu lidi yang akan menjadi sumber pendapatan tambahan pekerja. Sebagian kecil lidi dan daunnya akan menjadi alat meniriskan cairan gula merah ke tumpukan tembakau yang telah kering dan ayahku akan mengaduknya dengan cermat sampai seluruh rajangan tembakau teresap cairan gula.

Jumlah daun untuk satu kali proses pembuatan ico ugi membutuhkan kurang lebih 900 helai, di mana setiap timpo atau tabung membutuhkan 30 helai daun. Ini artinya, jika dalam setiap seratus batang lidi dibutuhkan untuk membuat satu buah sapu lidi, maka akan tersedia 9 sapu lidi dalam setiap proses produksi ico ugi. Ayah menyuruhku menjualnya di Pasar Cidu tak jauh dari pabrik ini. Itulah mengapa aku tak pernah minta uang jajan setiap ke sekolah apa lagi meminta uang untuk membeli buku-buku pelajaran.

Hal lain yang dipersiapkan ayah dan kawannya adalah bambu (tellang) yang digunakan untuk membuat tabung bambu (timpo). Di pabrik Adidie ini sudah tertumpuk rapi bambu-bambu yang sudah dipotong sesuai ukuran, panjang sekitar 50 cm. Pekerja tinggal mengambilnya sesuai kebutuhan. Dalam membuat 2 buah timpo, pekerja akan membutuhkan 12 bilah dari 3 batang bambu. Jadi jika 261 timpo dihasilkan oleh setiap kelompok kerja dibutuhkan 391,5 batang bambu. Ayahku cekatan membelah dan menyambungkan bilah-bilah bambu dengan mengikatnya satu sama lain dengan kawat lunak.

[Foto Muhammad Nur Abdurrahman]
membulatkan tembakau bugis dengan alat dulang

Sambil ayah menyiapkan timpo dan lembaran daun nyiur, pekerja yang lain mempersiapkan gula merah (golla cella) dan mempersiapkan rajangan tembakau. Dalam satu kali proses kerja, kawan ayah atau terkadang ayahku akan menyiapkan sekitar 163 kg gula merah yang akan dimasak dengan menggunakan 2 buah drum besi. Setelah menyiapkan gula merah, lalu mereka memilih dan menimbang daun tembakau yang telah dirajang yang tingkat kekeringannya sudah memadai untuk diolah menjadai ico ugi. Jumlah tembakau yang dibutuhkan mencapai berat 300 kg.

Hari Kedua, Ayah masih melanjutkan pembuatan 261 timpo dan lainnya akan memasak gula di dalam dua buah drum. Drum ini sudah berisi air sebanyak setengah drum saat gula dimasukan. Biasanya pekerja memasak gula pada sore hari selama tiga jam dan setelah mencair dengan tingkat kekentalan tertentu maka air gula ini akan didiamkan semalam dan akan dicampur saus khusus dan kemudian mencampurkan lagi ke daun tembakau pilihan pada keesokan harinya. Saus ini dibeli khusus oleh Haji Saide yang diproduksi di Philipina. Setiap drum akan dicampur sebanyak 1,5 sloki saus yang berarti butuh 3 sloki untuk dua drum.

Seorang pekerja pemasak gula memiliki keahlian khusus yang tak banyak pekerja mampu melakukannya: teknik mengaduk dan memutar atau membalikkan kekentalan gula dari larutan bagian bawah ke bagian atas. Teknik ini sulit dipelajari seperti teknik memutar agar gula tidak menguap banyak sehingga mengurangi kadar rasa manisnya. Pun demikian menghindari aroma karbon yang bisa membuat kepala si pengaduk pusing. Untuk menjaga hal itu terjadi, umumnya pengaduk ini akan mengenakan masker seadanya. Ayahku paling malas menjadi pengaduk gula. Itulah mengapa ia tak pernah sepandai kawan-kawannya yang lain.

Pada hari ketiga, Ayahku akan memasukkan 30 helai daun nyiur pada setiap timpo dan melengkapi timpo dengan penutup pada kedua bagian, atas dan bawah. Pada hari ini juga, pekerja gula akan mulai mencampurkan gula dengan tembakau. Setelah tercampur dengan merata, maka ketiganya secara bergantian sesuai kesepakatan bersama akan mulai membentuk bulatan tembakau campuran tersebut dengan menggunakan peralatan untuk membulatkan campuran ico seukuran diameter timpo yang disebut dulang. Pada setiap timpo akan berisi 40 bulatan ico. Pekerjaan ini akan dilakukan sepanjang hari sampai malam dan target 261 timpo ico ugi berhasil diselesaikan. Dengan demikian maka total gulungan ico yang diproduksi pekerja ini berjumlah 10.440 bulatan. Jika pekerjaan ayahku sudah memenuhi target, semisal 87 timpo, selanjutnya ia akan mempersiapkan pengasapan yang akan dilakukan keesokan paginya.

Image

[Foto: Muhammad Nur Abdurrahman]
Mempersiapkan Timpo

Saat mempersiapkan pembakaran untuk pengasapan, ayah dan kawan-kawannya akan mengambil serbuk-serbuk kayu sisa penggergajian dari gudang penyimpanan serbuk. Pada awalnya, tahun 1980-90an, pembakaran dilakukan dengan menggunakan arang. Namun karena lebih mudah memeroleh serbuk kayu dan kualitasnya nyaris serupa maka Haji Saide mengubah bahan bakar ini. Di ruang pengasapan terdapat 4 bidang yang ditata sedikit menurun dengan sudut kemiringan sekira 10 derajat. Timpo-timpo yang sudah berisi tembakau gulung akan diasapi di sini dengan diletakkan secara berjejer.

Hari keempat. Usai shalat subuh, Ayah akan mulai membakar serbuk kayu dan meletakkan seluruh timpo yang sudah selesai di atas wadah pengasapan. Mereka akan bergantian menjaga agar bara api tidak menyala dan memutarbalikkan timpo dengan cermat. Proses pengasapan ini akan berlangsung selama satu hari satu malam.

Hari kelima. Seluruh timpo akan dikemas dengan melabeli merk Adidie pada setiap timpo. Timpo yang sudah dilabeli kemudian ditutup permanen dengan menggunakan lempengan besi (simpe). Penggunaan lempengan besi ini adalah cara pengemasan yang sekarang digunakan dan jauh lebih kuat dibanding sebelumnya yang menggunakan lidi dan kemudian rotan. Setelahnya, setiap 12 timpo akan dikemas ke dalam satu karung plastik (karoro) yang berarti terdapat jumlah karung sekali produksi adalah 22 karung di mana salah satu karungnya hanya berisi 9 timpo.

Inilah akhir dari hari ayahku atau hari tim kerja ayahku. Akan ada pekerja lain yang mengurusi pemasarannya. Esoknya akan menjadi hari pertamanya lagi. Begitu selalu sampai saat ia meninggal beberapa tahun yang lalu.

Ayahku tak tahu kalau saat ini aku sudah menjadi seorang dokter.

Image

Aku yakin ia akan bangga pada diriku, anak semata wayangnya yang kini menjadi seorang dokter, dokter dari seorang ayah pekerja tembakau yang cukup berpengaruh. Tapi, aku amat yakin jika ia masih hidup sampai sekarang ia tentu juga kecewa padaku. Kecewa dengan apa yang kulakukan selain mengobati orang sakit.

Aku menjadi seorang penentang rokok di kota ini. Seorang yang menyuarakan bahwa betapa rokok membahayakan kesehatan pengisapnya dan orang-orang di sekitarnya. Sebuah laku yang sesungguhnya tak kuyakini benar keabsahannya, bahwa rokok benar-benar mengancam kesehatan banyak orang. Lagi pula, sebagian kawan-kawanku sesama dokter adalah perokok, bahkan para dokter spesialis penyakit paru-paru di rumah sakit daerah. Saat masih menjadi mahasiswa di fakultas kedokteran, guna menghindari olok-olok mahasiswa kedokteran yang lain yang tak merokok, kami suka mengutip kalimat Hipokrates, bapak kedokteran dari Yunani: “Segala yang ada di dunia ini adalah racun, kecuali sesuai kadarnya”. Merokok dengan kadar yang tepat tak akan menjadi racun bagi tubuh.

Image

Tapi ada satu alasan mengapa pada akhirnya aku larut dalam kampanye anti tembakau ini, walaupun sesekali aku masih tetap merokok. Ada banyak institusi datang menawarkan rupa-rupa proyek anti tembakau kepada lembaga kedokteran di mana aku bekerja. Mulai dari pemerintah, perusahaan farmasi, hingga organisasi-organisasi sosial skala internasional. Mulai dari urusan penelitian, penyusunan kertas kebijakan sampai propaganda rokok merusak kesehatan. Sebuah pekerjaan yang benar-benar menguntungkan secara finansial.

Aku tak yakin ayahku dapat mengerti pilihanku jika seandainya ia masih hidup. Untuk semua yang kini kulakukan, aku selalu berharap ayah bisa memaklumi pilihanku. Menjadi seorang anak pekerja tembakau yang menentang tembakau[].

Makassar, 12 Juni 2013

Advertisements

10 thoughts on “JEJAK TEMBAKAU DALAM HIDUPKU

  1. Luarr Biasa cara penuturan biografinya…..saya pedagang tembakau di semarang ,saya berminat sekali untuk membeli tembakau soppeng mohon dibantu nama/no.hp yang bs saya hubungi…terima kasih atas bantuannya (akhmad hp.0877-3165-3621 /0857-2763-7119)

  2. salam kenal….
    mohon bantuannya di informasikan ke kita alamat dan nomor HP/telp pemilik pabrik tembakau ADIDIE ini untuk kami pasarkan diwilayah sumatera utara no hp saya 081260870000

  3. Saya berminat membeli tembakau soppeng. Mohon kiranya bantuan alamat H. Saide. Bisa telp/sms saya di 081259638423. Terima kasih pak

  4. Saya berminat sekali membeli tembakau soppeng. Adakah kiranya saya bisa dihubungkan dengan alamat H. Saide. Mohon hubungi saya di 081259638423. Terima kasih

  5. Pingback: Ico ugi: Rokok khas dari tanah Bugis | Rokok Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s