MENCINTAI BUKU MENCINTAI KELUARGA

Oleh Ida Arianti Said

SEJAK memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, buku lalu menjadi media pelarian dari limpahan waktu yang tersedia di rumah. Saat itu, suamiku sedang menimba ilmu di negeri kincir angin di tahun 2006 (hingga Nopember 2007), aku dan anak lelakiku yang baru berusia 6 bulan tidur seranjang berdua. Tentu saja kerinduan kerap mendera. Apa lagi saat Mahatma Arrayyan, anakku, mulai bisa mengenali situasi sekelilingnya. Coba bayangkan jika sebagai seorang ibu kalian melihat anak lelakimu yang baru berusia setahun memandangi saudara sepupunya datang bersama ayah dan ibunya, dan ia tampak terdiam menyadari bahwa ada satu hal yang kurang di antara ia dan ibunya. Sesuatu yang ganjil yang tanggal dari mereka berdua, seorang ayah.

Continue reading

Advertisements

Hikayat Sabangka Sarope [2]

MATANAYO DI BUKIT SIOTAPINA

Slide1    Beberapa desa di perbukitan Sio[n]tapina adalah desa transmigran. Para transmigran menyebut desa mereka adalah SP yang berarti Satuan Permukiman. Jumlah SP bisa beberapa bilangan, semisal SP 1, SP 2 atau SP 3 dalam satu desa induk. Posisi SP ini bisa disebut setingkat dusun.

Desa Rojosari misalnya. Awalnya desa ini adalah SP 2 yang merupakan bagian dari desa induk, Siotapina, kecamatan Lasalimu Selatan. Berkat upaya keras dari para warga transmigran ini, khususnya bapak Aliafruddin trans asal Kendari kini wilayah mereka telah menjai desa. Sekitar enam tahun yang lalu, Pak Aliafruddin memilih pindah ke lokasi trans ini karena status tanah yang diberikan adalah hak milik. Status yang berbeda ia peroleh ketika ditempatkan di wilayah-wilayah terpencil tanpa infrastruktur di sekitar wilayah Bombana, hanya hak pakai saja.

Continue reading