MENCINTAI BUKU MENCINTAI KELUARGA

Oleh Ida Arianti Said

SEJAK memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, buku lalu menjadi media pelarian dari limpahan waktu yang tersedia di rumah. Saat itu, suamiku sedang menimba ilmu di negeri kincir angin di tahun 2006 (hingga Nopember 2007), aku dan anak lelakiku yang baru berusia 6 bulan tidur seranjang berdua. Tentu saja kerinduan kerap mendera. Apa lagi saat Mahatma Arrayyan, anakku, mulai bisa mengenali situasi sekelilingnya. Coba bayangkan jika sebagai seorang ibu kalian melihat anak lelakimu yang baru berusia setahun memandangi saudara sepupunya datang bersama ayah dan ibunya, dan ia tampak terdiam menyadari bahwa ada satu hal yang kurang di antara ia dan ibunya. Sesuatu yang ganjil yang tanggal dari mereka berdua, seorang ayah.

Sejak keberangkatan suamiku, aku selalu menyempatkan waktu menunjukkan photo ayahnya menjelang anak kami tidur.  Tapi ada hal yang lebih sering kulakukan ketimbang menunjukkan photo ayahnya dan mengatakan bahwa ayah sedang sekolah dan akan pulang nanti membawa mainan yang banyak untuknya. Aku membacakan dongeng menjelang anakku tidur dan menunjukkan gambar-gambar menarik dari buku anak-anak yang mulai kerap kubeli di toko buku.

Kebiasaan membaca buku bukan hal baru bagiku. Hal itu sudah berlangsung lama. Sewaktu aku masih di sekolah dasar, kakakku sering membawa buku cerita atau novel ke rumah yang ia sewa di sebuah kedai penyewaan buku yang marak saat itu. Aku masih ingat beberapa dari buku itu walaupun aku sudah tak begitu ingat jalan ceritanya. Yang paling kuingat adalah serial the famous five ataulima sekawan’ karya penulis Inggris Enid Blyton yang terkenal dengan cerita misteri dan petualangan Julian, Dick, Anne dan George serta anjing mereka, Timmy. Lalu, selepas SMA dan melanjutkan ke perguruan Tinggi kebiasaan membaca ini berlanjut dan aku semakin mengganrungi novel-novel populer semisal Sidney Sheldon, Agatha Christie dan lain-lain.

Saat usia kehamilanku semakin tua dan suamiku yang kerap ke desa, bukulah yang menemaniku. Beberapa buku kehamilan dan menjelang kelahiran kami beli dan menjadi rujukanku bertanya atas keluhan-keluhan kesehatan yang aku alami selama kehamilan. Saat itu kusadari bahwa buku menjadi kawan berkonsultasi yang netral dan membebaskanku dari rasa takut dan bingung saat tak ada akses bertanya kepada dokter.

Image

Aku mulai mengenal istilah pendidikan anak pra-lahir. Rupanya, pendidikan anak sudah bisa dimulai saat bayi masih dalam kandungan. Awalnya terasa lucu saat aku memutuskan untuk berdialog dengan anakku. Beberapa petunjuk teknis dalam buku pendidikan anak pra-lahir pun kami buat. Suamiku cukup kreatif mempersiapkan segala kebutuhan itu. Ia membuatkanku sebuah corong yang kugunakan untuk berbicara dan mendekatkan gema suaraku tepat di atas rahimku. Corong itu sederhana saja, terbuat dari sebuah botol minuman mineral berukuran 1 ml. Pantat botol itu ia lepaskan dan terjadilah dialog antara aku dan calon bayiku beberapa kali setiap hari. Jika aku hendak makan maka aku akan sampaikan pada anakku bahwa sebentar lagi kita akan makan. Jika aku akan mandi maka aku akan menyapa anakku agar bersiap-siap mandi. Perilaku ini agak aneh, tapi aku percaya bahwa aku bisa berkomunikasi dengan anakku, dengan bahasa seorang ibu tentu saja.

Suatu ketika, anakku tiba-tiba memberi respon dengan memberikan ketukan ke dinding rahimku entah dengan kaki atau kepalan mungilnya. Aku pun membalasnya dengan mengusap-usap permukaan rahimku di mana bayi kami menghentak. Betapa senang hatiku saat anakku merespon sapaanku. Sejak itu kami semakin sering berdialog.

Selain pendidikan pra lahir, aku juga memeroleh banyak informasi soal masalah-masalah umum kehamilan seperti bagaimana mengatasi morning sicknes dan masalah-masalah khusus di setiap bulan usia kehamilanku. Walaupun itu kehamilan pertama aku tak begitu khawatir dengan masalah-masalah kehamilan yang sedang kuhadapi dan yang akan kuhadapi. Bahkan dalam perbincangan dengan kawan atau tetangga yang juga sedang hamil aku tak bisa membedakan mana hal-hal yang sifatnya mitos kehamilan atau yang benar-benar faktual, sehingga aku bisa menghindari perlakuan-perlakuan yang sifatnya mistis dengan cara yang lebih rasional. Walaupun demikian, aku tak meninggalkan sama sekali apa yang tidak kupahami secara rasional, khususnya pengetahuan yang ibuku miliki soal kehamilan secara turun temurun semisal aneka pantangan makanan dan doa-doa.

Buku memang teman yang berharga di waktu luangku yang melimpah ini, demikian simpulku.

Begitu anakku lahir buku tetap menjadi kawan setia kami berdua. Kami sudah membeli buku-buku seputar masalah bayi di sepanjang usia balitanya dan tentu saja pendidikan anak usia dini. Di kamar kami selalu berserakan buku-buku, baik bacaanku, bacaan suamiku, maupun buku-buku penuh warni milik anakku.

Tiga tahun setelah kelahiran anak lelakiku, anak kedua kami lahir pada Desember 2008 dan tumbuh dalam pengasuhan yang tetap bersama buku-buku yang berserakan di kamar dan di atas tempat tidur kami. Anak keduaku adalah perempuan. Melihat keaktifannya, terlihat ia lebih menyukai buku ketimbang kakaknya, setidaknya tampak dari intensitas permintaannya kepada kami untuk membacakan buku-buku cerita pada setiap malam menjelang tidur. Bahkan dalam semalam bisa dua buku cerita aku bacakan kepadanya sebelum ia benar-benar mengantuk dan akhirnya tertidur. Tidak jarang malah aku yang tertidur kecapekan membaca cerita-ceritanya yang berulang.

Pernah aku kembali bekerja di sebuah rumah sakit di Makassar sebagai staf administasi. Pembagian waktuku berubah. Pagi hingga menjelang sore aku di rumah sakit. Anak-anak pun kerap harus dijaga oleh ibuku. Suamiku dan diriku mulai mengkhawatirkan keduanya. Dengan pola pembagian waktu dan pengasuhan seperti ini tentu ada sejumlah waktu yang tak bisa kami perhatikan. Khususnya soal perkembangan anak. Sebenarnya, suamiku berupaya menyempatkan diri untuk menjaga keduanya saat aku bekerja dan memilih mengerjakan tugas-tugasnya sejak sore hingga menjelang pagi. Tapi yang tersulit saat ia harus ke luar kota berhari-hari.

Dengan menimbang berbagai hal, khususnya tahun emas (the golden age) anak kami, aku memutuskan berhenti bekerja dan menikmati lagi waktu luang yang melimpah yang bisa kuhabiskan bersama anak-anakku. Dalam pengertian generiknya, waktu luang seyogyanya memang waktu yang digunakan untuk belajar dan refleksi.

Saat usia anak lelakiku memasuki usia ke tujuh (kelas satu SD) dan Mutiara Aisyah (ikut Kelompok bermain), aku sampaikan kepada kedua anakku bahwa ayahnya akan ulang tahun beberapa hari lagi. Kamipun masing-masing mempersiapkan kado untuknya. Saat itu, kami tak punya cukup uang sekedar membeli kue tart untuknya, walaupun aku tahu ia sebenarnya tak begitu peduli dengan hari ulang tahunnya, tapi setiap tahun selalu saja kami memberinya kejutan.

Aku dan Mutiara tak punya persiapan khusus untuk hadiah buat ayah, tapi Mahatma punya usul yang menarik. Ia meminta tiga helai kertas HVS kosong dan melipatnya. Dari setiap ruang dalam lipatan itu ia menuliskan beberapa cerita pendek. Di halaman pertamanya ia menggambar dirinya dan Tiara adiknya dan menuliskan sebuah judul besar ‘Buku Iyyan dan Tia’ lalu frase kecil ‘kado iyyan’. Rupanya, ia sedang mempersiapkan sebuah buku yang ia tulis sendiri cerita-ceritanya. Begitu ayahnya pulang dan kami semua menyanyikan selamat ulang tahun, Mahatma yang juga dipanggil Iyyan menyerahkan kadonya. Kado spesial yang membuat ayahnya tak henti-hentinya memuji dan menceritakan kepada kawan-kawannya yang juga penulis.

Image

Bagiku, Mahatma bisa punya ide membuat buku karena hari-hari yang sudah ia lewati bersama buku. Ia memang baru pandai membaca dan menulis. Tapi dari tulisannya dalam setiap halaman kertas HVS yang ia klip itu jelas alur ceritanya, walau sederhana tentu saja. Melihatnya menuliskan cerita-ceritanya, menyerahkan kado buku itu ke ayahnya, dan respon senang ayah pada hadiah itu, tentu membuatku senang, teramat senang. Waktu luang dan buku yang menemani, kebersamaan bersama anak-anak dengan membaca dan belajar apa saja melalui buku membuahkan hasil yang manis.

Kini anak-anakku mulai mengenal dunia online. Ia memainkan beberapa permainan dunia maya melalui facebook. Menonton kartun di youtube. Memiliki seabrek pekerjaan rumah dari sekolah. Mengenal dan bersentuhan dengan guru-guru yang tak hanya diriku. bermain dengan kawan-kawannya yang terus bertambah. Semua itu membuatku berpikir akankah waktu luangku masih memadai untuk belajar dan tumbuh bersama mereka?

Kamipun membuat kesepakatan-kesepakatan. Sepulang sekolah, sebelum bermain di dunia maya atau di luar rumah, Mahatma mesti membaca selama 30 menit. Ia bisa memilih jenis bacaan apapun miliknya yang sudah tertata di rak bukunya. Selepas mengerjakan pekerjaan rumah dan menjelang tidur, ia juga harus membaca selama 30 menit. Bagiku, buku dan membaca adalah dua hal penting. Kemampuan membaca berkaitan dengan daya tahan. Kebiasaan membaca sejak kecil akan membuatnya punya daya tahan di masa remajanya kelak.

Suatu hari, di akhir Desember di Makassar, ada sebuah festival pendidikan alternatif. Pesertanya para pengelola rumah baca, kedai baca, atau perpustakaan warga. Kami mengajukan diri untuk berpartisipasi. Bersama anak-anakku, kami mempersiapkan membawa seluruh koleksi buku Mahatma dan Tiara. Tak ketinggalan peralatan tulis menulis dan mewarnai serta beberapa alat permainan edukatif. Kami juga menyiapkan beberapa permainan untuk mengundang anak-anak duduk di stand baca kami. Benar, ada banyak anak akhirnya mampir dan bermain atau membaca bersama kami.

Ini kali pertama Mahatma dan Tiara melihat begitu banyak buku dan orang-orang yang mencintai buku. Aku berharap Mahatma dan Tiara tahu kalau ada banyak orang yang juga mencintai buku dan berteman dengan buku. Dengan begitu, buku bagiku adalah ekspresi cintaku pada keduanya[].

Advertisements

3 thoughts on “MENCINTAI BUKU MENCINTAI KELUARGA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s