JONNA DAN JONI: Pasangan Buta yang Membuka Mata Banyak Orang

INI SEBUAH makan malam dengan topik perbincangan yang hangat. Bertiga kami duduk melingkari sebuah meja makan bundar di salah satu restoran di Denpasar. Kebetulan kami dipertemukan oleh sebuah pertemuan Organisasi Masyarakat Sipil se-dunia guna mempersiapkan masukan untuk PBB menyangkut kelanjutan MDGs yang berakhir pada 2015. Ratusan aktifis sosial dari berbagai penjuru dunia hadir di sini. Dua diantara mereka benama Jonna Aman Damanik dan M Joni Yulianto, yang berasal dari dua organisasi pembela orang-orang penyandang disabilitas atau difabel.

Walau keduanya buta, aku tak melihat tongkat keduanya sejak tadi. Mungkin mereka memilih menyimpannya di tas punggung. Tadi, sewaktu kami memutuskan mengobrol di restoran ini, aku bangkit dan meraih lengan Joni bermaksud menuntunnya. Jonna juga berdiri. Ia memperbaiki tas ransel di punggungnya yang lebar lalu meletakkan telapak tangan kanannya di bahu kiri Joni yang kurus. Kamipun mulai melangkah beriringan.

Continue reading

Advertisements

HIKAYAT KEDALAMAN HIDUP ORANG-ORANG PEDALAMAN

SEORANG LELAKI TUA terbaring sakit di sebuah tempat tidur kayu yang berumur setua dirinya. Kalender di dinding papan bergambar partai politik tertulis 2013. Tepat 77 tahun silam saat ia dilahirkan. Kelahiran yang ditandai rasa was-was kata ayahnya suatu waktu saat ia berusia belasan. Desas-desus tentang sejumlah pengayau yang berkeliaran mencari kepala manusia untuk persembahan bertebaran menyiutkan nyali.

Selalu begitu, saat ada seorang maradika [bangsawan] meninggal, konon mereka butuh beberapa kepala untuk menemaninya di alam kubur. Hari itu, orang-orang menutup pintu rumahnya dan setiap lelaki dewasa akan berjaga-jaga.

Bayang-bayang masa lalu di kampung Namo berkelebatan. Kampung yang terletak di kecamatan Kulawi yang berbatasan dengan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Continue reading

HIKAYAT PEROKOK TUA MINAHASA

Namanya Bernard Welley, umur 72 tahun. Ia tinggal di desa Kolongan atas, kecamatan Sonder, kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Sewaktu aku menanyakan kapan pertama kali ia merokok, dengan bangga ia mengatakan,

“saya sudah merokok sejak SD!”

Aku tidak terkejut mendengarnya. Ini adalah fenomena yang banyak terlihat di desa-desa di Indonesia.

“Apakah bapak pernah sakit karena alasan rokok?” tanyaku.

“Tidak! Paling-paling saya sakit kalau sedang berada di hutan, Malaria.” Tawanya meledak karena ia tahu tak ada hubungan merokok dengan sakit malaria. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [3]

DANIEL DHAKIDAE: Menjadi Lebih Sekadar Pembaca Penikmat

Pada suatu hari di bulan April 1983. Tepatnya tanggal 16, M. Dawam Rahardjo, Ismid Hadad, dan Daniel Dhakidae diminta menghadap oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta. Ketiga cendekiawan kawakan Indonesia ini adalah pengelola Majalah Prisma, media rujukan dari banyak kaum intelejensia di Indonesia. Staf Kejaksaan Tinggi menginterogasi ketiganya.

Menurut penilaian Departemen Penerangan atas beberapa terbitan majalah Prisma era 1980an, majalah ini dianggap mempopulerkan beberapa tokoh kiri. Pandangan pihak kejaksaan bahwa Prisma sedang berupaya menggiring opini masyarakat untuk menerima kehadiran kembali Partai Komunis Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut seperti Cornel Simanjuntak dalam Prisma, No.2, Februari 1982; S.M. Kartosuwiryo dalam Prisma, No.5, Mei 1982; Aidit dalam Prisma, No.7, Juli 1982; Oerip Soemohardjo dalam Prisma, No.9, September 1982; dan tulisan Jacques Leclerc dalam Prisma, No.12, Desember 1982 yang berjudul “Aidit dan Partai Pada Tahun 1950” menjadi rujukan pihak Kejaksaan. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [2]

BERSIHAR LUBIS: Pewarta yang membangun ‘theater of mind’ di kepala pembacanya.

Saat sarapan pagi, suasana ruangan mulai ramai. Dari balik dinding kaca kulihat seorang lelaki paruh baya berkemeja berwarna krem yang lembut. Wajahnya khas Batak. Begitu beberapa panitia menyambutnya dan kudengar suaranya lurus dan lugas, berdialek Batak. Kupastikan lelaki ini adalah Bersihar Lubis. Namanya tertera di lembar jadwal pelatihan yang dibagikan panitia. Aku tak mengenal wartawan senior ini. aku bertanya-tanya, wawasan kepenulisan seperti apa yang nanti akan ia bentangkan.

Bagi siapa saja yang pernah membaca artikel di Koran Tempo, edisi 17 Maret 2007 yang berjudul “Kisah Interogator yang Dungu” tentu tahu pasti siapa penulisnya. Ya, dialah Bersihar Lubis. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [1]

MARIA HARTININGSIH: Menulis Sebagai Rahasia Awet muda

Perjalanan ke bandara Hasanuddin basah dan getir. Genangan air memenuhi jalan raya nyaris sepanjang jalan Pettarani.“Semalam jalan ini jauh lebih parah,” ujar pengemudi taksi ini. Aku mengiyakan. Semalam aku juga menembus guyuran deras saat pulang ke rumah dari sebuh diskusi sesama dosen Ilmu Politik Universitas Teknologi Sulawesi. Sial, malam itu tak ada mantel hujan terbawa di motorku. Akupun kuyup menggigil sesampai di rumah.

Hari masih pagi di bandara yang hiruk pikuk.

Aku menuju mesin kopi. Memasukkan selembar uang senilai lima ribu rupiah. Menunggu sejenak proses penuangan kopi ke gelas plastik berwarna cokelat. Pandanganku tak luput sedikitpun dari kotak mesin itu. Yakin telah selesai, aku  merogoh dan meraih segelas kopi mengepul. Kebiasaanku meminum kopi selalu membauinya sebelum menyeruputnya. Continue reading

Mengenang Gurutta’ Aji Bolapatappuloe

Tiga lelaki tua sedang berkumpul di sebuah bale-bale bambu. Mereka saling mengenang masa lalu. Ada kalanya sebuah kenangan menggelakkan ketiganya karena kelucuan peristiwa atau kegetiran hidup yang telah berlalu. Tapi kali waktu mereka tertunduk menyebabkan dua bola mata mulai tergenang air mata.

Dihadapan ketiga tetua kampung ini, seorang pemuda duduk mendengarkan, sesekali bertanya. Ia mencatatkan detail peristiwa yang dianggapnya penting dan sesekali mengecek alat perekam yang tergeletak di antara ketiga orang tua ini. Ia belum lahir di masa-masa yang sedang dikenang ketiga orang tua ini.

Orang-orang ini sedang menyusun ingatan yang sekian puluh tahun tersimpan tak terkisahkan.

Mereka bernostalgia saat tahun 1953, seorang guru mengaji ke kampung mereka Bolapatappuloe kabupaten Pinrang dari kampung Majjelling, kabupaten Sidrap. Belakangan mereka menyebut guru itu, Guru Battoa atau guru besar. Mayoritas menyematkan nama Gurutta’ Bolapatapuloe atau Aji Bolapatappuloe. Dalam bahasa Bugis, Bolapatappuloe berarti ’empat puluh rumah’. Masih ada sapaan lainnya, yakni Aji Commo’ yang artinya haji yang gemuk mengingat tubuhnya yang memang subur. Sementara itu, dari kalangan kerabat sang guru, ia disapa Ajinna Aminah, yang merujuk pada anak putri pertama Gurutta’ yang bernama Aminah.

Continue reading