JEJAK TEMBAKAU DALAM HIDUPKU

[sebuah cerpen]

Aku punya 7 hari dalam seminggu. Ayahku hanya punya lima hari di sepanjang hidupnya. Ia seorang pekerja Tembakau Bugis di Makassar.

Dalam bahasa kami, tembakau bugis adalah terjemahan dari ico ugi. Ico ugi ini adalah Rokok Bugis yang berbeda dengan Rokok Jawa, Kretek. Kalau rokok Jawa saat diisap mengeluarkan bunyi keretek, sementara rokok Bugis mengeluarkan bunyi kerutup.

Tapi bukan soal bunyi saja yang membedakan rokok Bugis dengan rokok Jawa. Aroma dan rasanya juga jauh berbeda. Jika kretek beraroma cengkeh yang pedis, sementara ico ugi beraroma gula merah yang harum. Continue reading

Advertisements

HIKAYAT SEORANG ‘PALLAPI’ ARO’

Di usia 4 tahun ayah La Beddu meninggal. Saat itu, awal musim hujan di bulan Oktober 1952 baru saja turun. Salah satu kampung di Sidrap di jazirah Selatan Sulawesi, kabar duka itu membahana. Kakeknya, seorang guru mengaji di kampung itu memilih merawatnya. Ibu Beddu, I Nurung adalah anak perempuan gurutta—guru kita.

Di sana ia memiliki seorang kakak sepupu yang usianya terpaut sepuluh tahun. Namanya La Huseng. Sebagaimana gurutta mencintai I Nurung, yang baru ditinggal mati suaminya, si kakek juga amat menyayangi cucunya. Itulah mengapa guru berpesan kepada La Huseng agar menjaga La Beddu. Menjadi Pallapi aro atau pelindungnya Beddu dalam budaya Bugis. Continue reading

Sepasang Pencinta Kretek di Negeri Kincir Angin

Daun-daun maple beterbangan. Warnanya merah keemasan. Semuanya tampak jelas dari balik jendela perpustakaan Koninklijke Bibliotheek. Aku baru saja meraih sebuah DVD. Judulnya, ‘the girl in a café’. Aku tertarik dengan judulnya. Kata café dalam judul itu mengingatkanku pada sebuah kampung.

Kampungku jauh di pedalaman Pulau Sulawesi. Aku ingat, kau menyebut pulauku “a funny island.” Hari itu, saat pertama kali kita berkenalan di perpustakaan kampus. Mungkin karena asing dengan kata Sulawesi lantas kau memintaku membuka google earth. Kamu hanya tahu kalau Indonesia itu hanya Bali, dan seolah-olah Indonesia hanya memiliki satu pulau, pulau Bali.

Aku meraih tikus nirkabel ku dan membawa kursor ke desktop, mengklik ikon shortcut google earth dan memutar bola dunia ke kepulauan Indonesia. Aku melihatmu sekilas dan pandangannmu tertuju ke kepulauan nusantara yang membesar dengan kecepatan nyaris secepat se-klik-an jari telunjuk kananku menekan tuts bagian kiri. aku menunjuk pulau Sulawesi yang serupa huruf K dan kau mulai tertawa, dan bilang kalau pulauku bentuknya lucu.

“Kampungku ada di tengah pulau ini.” Aku memandangmu dan kau hanya mengangguk.

This is the mountain of Latimojong and I am living here.” Kamu Cuma bilang, nice dan masih mengangguk-angguk lucu. Rambut pirangmu yang bergelombang dan kulit pipimu yang putih bersih degan rona merah jambu membuatku bergumam dalam hati. “hm, aku benar-benar bersama cewek bule sekarang.”

Continue reading

Suatu Malam di Oude Molstraat

Malam merayap perlahan. Pukul 11.45 pm di Kota Den Haag. Angin menepuk-nepuk wajahku serupa tepukan persahabatan di pundak kiriku.

Beberapa orang berambut jagung berpostur tinggi masih melintas dengan sepeda atau berjalan kaki. Ini daerah Centrum. Sebuah pusat perbelanjaan yang setiap harinya ramai dengan pengunjung dari seantero bangsa. Pada waktu-waktu tertentu ada saja sekumpulan kaum leisure time dari Indonesia entah dari kota mana. Aku tak begitu peduli seperti segelintir kawan lain yang rela membuntuti mereka dan mencatat merk belanjaan dari kantung-kantung plastik di kedua lengan mereka. Sasaran empuk biasanya kalau mereka itu dari kaum politisi yang baru beranjak kaya. Dengan kekayaan yang mereka peroleh dari korupsi uang rakyat.

Image

                          Kampus ISS, The Hague, The Netherlands

Tadi sore, saat memutuskan mengantar Nadia pulang ke student housingnya aku memilih berjalan kaki. Dia pun memilih menuntun sepedanya. Kami menyusuri jalan Noor deinde lalu berbelok menuju jalanOude Molstraat di mana ia tinggal bersama mahasiswa ISS yang lain. Bukan pekerjaan sulit menuntun sepeda di negeri kincir angin ini. Cuacanya teduh dan berjalan kaki tentu jauh lebih nikmat di antara pejalan yang juga berseliweran. Lagi pula jarak kampus kami ke asramanya tak begitu jauh. Hanya sekira lima ratus meter. Continue reading