MENCINTAI BUKU MENCINTAI KELUARGA

Oleh Ida Arianti Said

SEJAK memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, buku lalu menjadi media pelarian dari limpahan waktu yang tersedia di rumah. Saat itu, suamiku sedang menimba ilmu di negeri kincir angin di tahun 2006 (hingga Nopember 2007), aku dan anak lelakiku yang baru berusia 6 bulan tidur seranjang berdua. Tentu saja kerinduan kerap mendera. Apa lagi saat Mahatma Arrayyan, anakku, mulai bisa mengenali situasi sekelilingnya. Coba bayangkan jika sebagai seorang ibu kalian melihat anak lelakimu yang baru berusia setahun memandangi saudara sepupunya datang bersama ayah dan ibunya, dan ia tampak terdiam menyadari bahwa ada satu hal yang kurang di antara ia dan ibunya. Sesuatu yang ganjil yang tanggal dari mereka berdua, seorang ayah.

Continue reading

Advertisements

Mengenang Gurutta’ Aji Bolapatappuloe

Tiga lelaki tua sedang berkumpul di sebuah bale-bale bambu. Mereka saling mengenang masa lalu. Ada kalanya sebuah kenangan menggelakkan ketiganya karena kelucuan peristiwa atau kegetiran hidup yang telah berlalu. Tapi kali waktu mereka tertunduk menyebabkan dua bola mata mulai tergenang air mata.

Dihadapan ketiga tetua kampung ini, seorang pemuda duduk mendengarkan, sesekali bertanya. Ia mencatatkan detail peristiwa yang dianggapnya penting dan sesekali mengecek alat perekam yang tergeletak di antara ketiga orang tua ini. Ia belum lahir di masa-masa yang sedang dikenang ketiga orang tua ini.

Orang-orang ini sedang menyusun ingatan yang sekian puluh tahun tersimpan tak terkisahkan.

Mereka bernostalgia saat tahun 1953, seorang guru mengaji ke kampung mereka Bolapatappuloe kabupaten Pinrang dari kampung Majjelling, kabupaten Sidrap. Belakangan mereka menyebut guru itu, Guru Battoa atau guru besar. Mayoritas menyematkan nama Gurutta’ Bolapatapuloe atau Aji Bolapatappuloe. Dalam bahasa Bugis, Bolapatappuloe berarti ’empat puluh rumah’. Masih ada sapaan lainnya, yakni Aji Commo’ yang artinya haji yang gemuk mengingat tubuhnya yang memang subur. Sementara itu, dari kalangan kerabat sang guru, ia disapa Ajinna Aminah, yang merujuk pada anak putri pertama Gurutta’ yang bernama Aminah.

Continue reading

Mother was really something

–Tulisan ini adalah terjemahan tulisan Joseph N. Michelotti’s dari artikelnya berjudul “Mother was really something—she challenged us to succeed—and then showed us the way. Saya harap artikel ini bisa berguna bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang istri, seorang ibu, atau ingin menjadi seorang yang berarti [ishak salim]–

Pada bulan Juni 1976, dia lulus menyelesaikan studinya di Northwestern University Medical School di Chicago. Ketika namanya dipanggil oleh dekan dalam upacara wisudawan dia melangkah mantap untuk meraih gelarnya. Tapi sebelum Dekan The Medical School menyerahkan ijasahnya, sang dekan berkata kepada hadirin:

“Kepada Anna dan Carlo Ancelotti mohon untuk berdiri” dia terkejut, dan kedua orang tuaya tampak bingung.

Dekan berkata lagi dengan penuh kebanggaan kepada seluruh hadirin,

“sepasang imigran dari Italia dari keluarga petani di pinggiran Chicago telah sukses mendidik, mengasuh, dan mengirimkan anak-anaknya ke Universitas. Tiga dari anaknya berhasil menjadi dokter, dua menjadi ahli hukum, dan seorang menjadi ahli fisika, it’s remarkable” demikian dekan itu berseru dan seluruh hadirin memberi applaus kepada kedua orang tua itu.

Dia melihat wajah ibunya sumringah karena bangga dan menyadari benar bahwa segala sesuatu yang ia raih dan yang akan dia capai adalah semua karena didikan keduanya. Secara khusus, untuk ibunya dia katakan bahwa tidak sampai dewasa ia telah menyadari bahwa betapa spesial ibunya.

Orang ini adalah Joseph N. Michelotti, MD dan dia menceritakan dengan sangat baik tentang peran ibunya yang sangat penting dan berharga bagi setiap perempuan yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. “Mother was really Something” demikian judul artikel itu.
Continue reading

Zain Munzirin: Si jago ‘suit’ di keluarga kami

“Ayo suit!”

Pernahkah kamu suit (suwit) dengan kawanmu di sekolah saat kamu TK atau SD? Bila pertanyaan ini diajukan kepada anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar, atau bahkan TK sekalipun, maka saya yakin jawabannya adalah ‘pernah’!

Suit adalah permainan anak-anak untuk menguji ketangkasan dalam membaca pikiran lawan. Aturannya sederhana. Permainan hanya berlaku untuk dua orang saja. Lalu setiap orang secara serentak menyodorkan elemen tertentu, apakah batu, kertas, atau gunting. Simbol batu adalah kepalan, kertas lima jari yang terbuka, dan gunting adalah dua jari—telunjuk dan jari tengah—atau lambang ‘V’. Bila kertas bertemu dengan batu maka kertas menang karena kertas dapat menutupi batu. Namun kertas tak berdaya berhadapan dengan gunting karena gunting dengan mudah merobeknya. Sementara batu lebih jago ketimbang gunting karena gunting tak bisa memotong batu.

Ah, tanpa menjelaskan dengan detailpun kalian pasti sudah tahu aturan mainnya. Saya ingin berbagi cerita tentang satu aktifitas keluarga yang menyenangkan melalui adu ketangkasan ini.

Hari itu, seorang ponakan berulang tahun. Alih-alih merayakannya di sekolahnya dengan membeli sepaket ‘Kentucky Fried Chicken’ untuk teman sekelasnya, ibunya akhirnya lebih memilih paket sederhana. Cukup dengan kue ulang tahun berukuran kecil dengan lilin berbentuk angka ‘8’. Kemudian untuk makanannya cukup memesan mie goreng di warung Dewata dua bungkus jumbo dan bakso di gerobak Mas Toto sekira tiga puluh ribu rupiah. Untuk menyemarakkannya, saya dan istri merancang beberapa permainan atau katakanlah perlombaan.

Kami lalu berdiskusi mengenai beberapa permainan. Mengingat ponakan-ponakan ini bervariasi dalam usia, antara 3 – 11 tahun maka permainan yang kami pilihpun disesuaikan dengan usia. Tapi, tentu saja ada permainan untuk semua, seperti makan kerupuk. Untuk yang berusia 3 – 6 tahun seperti Farah, Usman, dan Tiara ada  uji kemampuan menyanyi. Untuk yang sudah bersekolah seperti Zaki, Zain, Umar, Iyyan, dan Farah ada uji hapalan doa dan surat pendek dalam Al Qur’an. Dan karena terlintas permainan kami yang pernah kami lakukan selama beberapa hari di kamar usai putra kami, Iyyan, belajar, sayapun mengajukan adu suit atau dalam bahasa Makassar ‘mappus’.

Untuk memasukkan nuansa kompetisi, awalnya kami sempat berpikir menyediakan hadiah bagi pemenang dari setiap pertandingan. Namun karena sadar kalau watak kompetisi di mana mesti ada sang juara tak selalu berdampak baik, kami lalu memutuskan bahwa hanya ada satu bingkisan bagi setiap anak untuk semua ajang permainan ini. Kami menyebutnya ‘bingkisan partisipasi’. Akhirnya beberapa permainan tak harus ada pemenang. Cukup tampil ke panggung—sebuah meja berkaki pendek—lalu bernyanyi atau membaca doa.

Nah, untuk adu ketangkasan suit, saya bertugas mendesain model kompetisinya. Awalnya masih khawatir dengan efek negatif nya, yakni mental kompetitor. Namun, dengan meyakinkan diri akan menjelaskannya dengan hati-hati tentang makna kompetisi kepada anak-anak, akhirnya jadi juga rancangan pertandingannya.

Continue reading