JEJAK TEMBAKAU DALAM HIDUPKU

[sebuah cerpen]

Aku punya 7 hari dalam seminggu. Ayahku hanya punya lima hari di sepanjang hidupnya. Ia seorang pekerja Tembakau Bugis di Makassar.

Dalam bahasa kami, tembakau bugis adalah terjemahan dari ico ugi. Ico ugi ini adalah Rokok Bugis yang berbeda dengan Rokok Jawa, Kretek. Kalau rokok Jawa saat diisap mengeluarkan bunyi keretek, sementara rokok Bugis mengeluarkan bunyi kerutup.

Tapi bukan soal bunyi saja yang membedakan rokok Bugis dengan rokok Jawa. Aroma dan rasanya juga jauh berbeda. Jika kretek beraroma cengkeh yang pedis, sementara ico ugi beraroma gula merah yang harum. Continue reading

Pasar Butung di Suatu Ahad Tahun 2010

Aku membuka lagi sebuah peta Makassar ukuran A noldan menghamparkan di lantai, seperti membentangkan selembar tikar yang tergulung. Di sisi kanan atas peta itu tertera angka 1955. Artinya peta ini sudah berusia 55 tahun. Aku menghitung satu per satu pasar di Makassar pada tahun itu. Yang ada: Pasar Butung, Pasar Tjidu, Pasar Kalimbu, Pasar Baru, dan Pasar Lette.

Aku berusaha mencari nama Pasar Terong, pasar lokal terbesar di Makassar. Tapi yang kutemukan hanya pasar pelelangan ikan di Gusung dan di Kampung Baru. Ah, aku hanya berandai-andai. Pasar Terong belum ada saat itu bukan? Terong baru dikenal pada tahun 1970.

Suatu hari aku mendengar kisah dari Haji Tula, seorang pedagang tua. Ia mulai berdagang di Pasar Kalimbu tahun 1958. Ia berdagang buah saat itu dan hingga kini masih berdagang buah di Pasar Terong. Tapi sekarang ini lebih banyak istirahat. Ia sudah berpinak dan bercucu. Dua orang anaknya merupakan punggawa buah-buahan asal Takalar.

Menurutnya, cikal bakal berdirinya pasar Terong dimulai dari keramaian orang berjualan di Jalan Bayam hingga ke Jalan Bawakaraeng. Belakangan luasan pasar bertambah seiring pertumbuhan kota dan pertambahan penduduk. Sekitar tahun 1965 terjadi kebakaran sejumlah rumah penduduk. Beberapa tahun kemudian, di bekas lokasi kebakaran itu Walikota Daeng Patompo mendirikan bangunan pasar inpres yang kemudian dinamai Pasar Terong.

Tampaknya, meningkatnya urbanisasi pada rentang dekade 60-an ini disebabkan oleh berkecamuknya desa-desa dataran tinggi di Sulawesi Selatan. Pasukan Qahhar Mudzakkar sejak menolak kebijakan militer pusat memekikkan pemberontakan. Desa-desa berkecamuk begitu Militer Jawa datang bermaksud menumpas pemberontakan Qahhar. Para penduduk desa meninggalkan kampung dan masuk kota. Salah satu pilihan yang memungkinkan saat itu adalah hijrah ke Makassar.

(Jika saat itu saya sudah remaja, tentu saya akan memilih berada di pegunungan itu dan berdiri di belakang Qahhar ketimbang di kota ini. Saya percaya bahwa ia memiliki semangat pemberontakan untuk memperbaiki keadaan. Sayangnya Qahhar gagal dan mati tertembak di Sungai Lasolo. Aku tinggal membaca atau mendengar kisah-kisahnya dari belasan orang tua yang pernah kutemui di Desa Tassese di Gowa, Kompang di Sinjai, Barae di Soppeng, Latimojong, dan Palopo di Luwu atau Oloholoho di Kolaka.)

Aku menggulung peta. Hari ini saya bersama teman-teman akan tur ke sejumlah pasar lokal di Makassar. Beberapa waktu lalu aku melihat sebuah foto saat Pasar Butung baru saja rampung dibangun Pemerintah Kolonial Belanda. Bangunannya berupa lods sederhana dan tertata apik. Tidak detail memang. Tapi, setidaknya, bisa dibayangkan pasar ini pasti ramai setiap harinya. Pada tahun itu, pusat kota tepat di kawasan ini, yang terletak tak jauh dari Fort Rotterdam sebagai wilayah kelas satu orang-orang Belanda.

Inilah Pasar Butung, pasar rakyat yang kini jadi pasar grosiran pakaian.

Continue reading

DARI PASAR CIDU DAN KENANGAN PASAR SENTRAL

KAMI akhirnya masuk ke pasar Cidu di hari Minggu pagi ini. Melihat aku membawa kamera, para pedagang mulai berbisik-bisik.

Engka passoting.” Teriak salah seorang dari mereka. Ada tukang shooting katanya.

Sini dule e, soting ka.” Teriak pedagang ikan yang berbaur dengan penjual sayur, rempah-rempah, dan aneka barang campuran.

Tak jauh dari suara tadi ada penjual ‘popcorn’ yang menggunakan lappo’. Mesin yang dirakit khusus untuk memanaskan butiran jagung dalam jumlah banyak hingga meletup satu persatu dalam mesin berbentuk tabung hitam itu. Saat seluruh biji jagung meletup di dalam tabung, maka saat penutup tabung dibuka untuk mengeluarkan popcorn akan menimbulkan suara letusan. Itulah mengapa orang-orang ini menyebutnya lappo atau meletus.

Setelah letusan yang memekakkan telinga itu, kami menyusuri pasar lebih ke dalam dengan berpencar. Pasar ini kecil saja. Jika dihitung jumlah panjang jalan, hanya sekira 200 meter.

Pasar Cidu, seperti kebanyakan pasar lokal yang tidak diperhatikan oleh pemerintah terlihat padat tak tertata. Sampah yang tak terangkut, got yang mampat, genangan air yang menghitam dan aroma sayur atau ikan dan ayam potong yang membusuk menjadi pemandangan sehari-hari.

Continue reading

Dunia Preman Pasar Terong

SUATU PAGI di bulan April 2009. Pasar Terong ricuh. Pedagang menghentikan kegiatan. Para pembeli, yang kebanyakan ibu rumah tangga, berlari ke pinggir lalu masuk di sela ruang menjual para pedagang. Beberapa orang berlari. Mereka mengejar seseorang berseragam hijau, mirip tentara. Orang-orang itu menghunus dan mengacungkan badik. Orang-orang berteriak. Beberapa meja hampir saja terjungkal karena ruas jalan yang begitu sempit.

Jang ko lari Turu’, ana’ sundala!” Salah seorang berteriak.

Orang yang dipanggil Turu’ itu terus lari. Ia menuju Jalan Terong yang ramai dipenuhi ‘bunga-bunga liar’—istilah Iwan Fals untuk pedagang kaki lima. Dia menabrak beberapa orang yang berdesakan rapat. Orang-orang yang mengenalnya memilih tak menggubris. Hanya hitungan detik dia masuk ke wilayahnya di ‘letter L’, berada di sisi utara bangunan Pasar Terong, yang dibangun tahun 1995.

Orang-orang itu berhenti. Berpikir sejenak untuk melanjutkan pengejaran. ‘Letter L’ adalah area ‘kekuasaan’ Daeng Turu’. Dia dikenal ‘bos’ di kawasan ini. Beberapa pedagang menyebutnya ‘bos preman Terong’. Bagi pengelola gedung Pasar Terong, Ferry Soelisthio, Daeng Turu’, berdasarkan pengakuan Turu’ sendiri, ia adalah orang yang difungsikan sebagai katup pengaman bagi pengelola swasta ini bila ada kebijakan yang hendak dijalankannya seperti penggusuran segelintir pedagang di kawasan tertentu. Continue reading

GADDE-GADDE MAKASSAR DALAM ANCAMAN EKSPANSI MINIMARKET MODEREN[1]

Oleh: Ishak Salim dan tim AcSI[2]

Pengantar

Makassar adalah kota tujuan. Banyak perantau dari luar daerah datang menetap atau sekedar batu loncatan di sini. Bukan hanya dari propinsi Sulawesi Selatan melainkan dari daerah pedalaman Indonesia Timur. Pendatang dari provinsi ini seperti para paggandeng dari kabupaten Gowa dan Takalar yang setiap pagi meramaikan jalan Poros Gowa – Makassar dengan sepeda atau motornya. Mereka menuju pasar-pasar lokal, menjajakan sayuran hijau dan aneka ikan segar. Di pasar-pasar lokal sendiri yang jumlahnya lebih 50 pasar sudah ada berbagai pedagang dari etnis yang beragam. Untuk menyebut beberapa contoh adalah Enrekang, Pangkep, Wajo, Selayar, Maros, dan seterusnya.
Continue reading

Cerita Tentang Petani Tompobulu yang Menjual Kacang Tanahnya di Pasar Terong

“Pak Haji, kalau sapi itu talinya dipegang, kalau Pak Haji, kata-katanya!” Manci, petani dari desa Tompo Bulu berujar ketus kepada pedagang dari kota Pangkep.

Pak Haji adalah pedagang yang selama ini membeli komoditas pertanian dari para petani di desa-desa kabupaten Pangkep. Manci demikian kesalnya. Pasalnya, kesepakatan awal sebelum ia mengupas dan mengumpulkan kacang tanahnya, harga beli yang ditawarkan Pak Haji sebesar 11.000 rupiah perkilonya, namun setibanya ia di kota Pangkep dengan 500 kilo kacangnya, rupanya Pak Haji menurunkan nilai belinya menjadi Rp. 10.500,- dengan alasan yang mengada-ada.

Dua tahun kemudian, tepatnya 3 Januari 2011, belasan petani Tompo Bulu mengumpulkan kacang tanahnya di bawah rumah panggungnya masing-masing. Mereka sepakat mengumpulkannya di rumah Manci untuk menjualnya di Pasar Terong di Makassar tanpa melalui pedagang perantara yang kerap mengambil untung lebih besar ketimbang si produsen sendiri, petani!

Continue reading

Derai-Derai Air di Pasar Tamalate

Walau pagi terus beranjak. matahari tak jua mencuat. Selangit awan sejak semalam menawannya erat. Alih-alih membebaskan diri dari sekapan awan kelabu. air malah tumpah ruah. Awalnya sekedar garis-garis perak puitis, akhirnya menjadi hujan yang marah. Langit ringkih menampar jejak yang baru tercetak, Mengukir pahatan baru tak berjejak.

Orang-orang yang mencari uang untuk sesuap nasi. Datang silih berganti. Menetap bila nasib begitu baik di jalan Tamalate. Tapi pergi juga seringkali menjadi pilihan tunggal. Armada Pagandeng dari Makassar, Gowa, dan Takalar yang memenuhi jalan Tamalate I di sekitar kampus UNM Fakultas Ilmu Pendidikan sudah ada di sana lebih sejak sepuluh tahun terakhir.

Daeng Kanang, ibu tua beranak sepuluh penuh semangat menceritakan kisah heroik dalam hidupnya. Saat itu awal tahun 2000 saat ia masih menjual di sekitar Puskesmas Kassi-Kassi.

Satuan Polisi Pamong Praja datang bergerombol ke  lapaknya. Mereka bermaksud mengusir Daeng Kanang agar tidak menjual lagi di trotoar itu. Tapi, ia dengan sigap mencegatnya. Dengan logat Makassar yang kental, ia balik memaki-maki Komandan Regu Satpol PP itu. Komandan regu berlagak tenang dengan makian Daeng Kanang. Tapi ia juga tak mau pergi sebelum Daeng Kanang membereskan meja lapaknya. Daeng Kanang tak kehabisan kata-kata.

“Dari mana kalian dapat uang untuk makan kalau bukan dengan memeras rakyat kecil seperti kami!”

Continue reading