MENCINTAI BUKU MENCINTAI KELUARGA

Oleh Ida Arianti Said

SEJAK memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, buku lalu menjadi media pelarian dari limpahan waktu yang tersedia di rumah. Saat itu, suamiku sedang menimba ilmu di negeri kincir angin di tahun 2006 (hingga Nopember 2007), aku dan anak lelakiku yang baru berusia 6 bulan tidur seranjang berdua. Tentu saja kerinduan kerap mendera. Apa lagi saat Mahatma Arrayyan, anakku, mulai bisa mengenali situasi sekelilingnya. Coba bayangkan jika sebagai seorang ibu kalian melihat anak lelakimu yang baru berusia setahun memandangi saudara sepupunya datang bersama ayah dan ibunya, dan ia tampak terdiam menyadari bahwa ada satu hal yang kurang di antara ia dan ibunya. Sesuatu yang ganjil yang tanggal dari mereka berdua, seorang ayah.

Continue reading

JEJAK TEMBAKAU DALAM HIDUPKU

[sebuah cerpen]

Aku punya 7 hari dalam seminggu. Ayahku hanya punya lima hari di sepanjang hidupnya. Ia seorang pekerja Tembakau Bugis di Makassar.

Dalam bahasa kami, tembakau bugis adalah terjemahan dari ico ugi. Ico ugi ini adalah Rokok Bugis yang berbeda dengan Rokok Jawa, Kretek. Kalau rokok Jawa saat diisap mengeluarkan bunyi keretek, sementara rokok Bugis mengeluarkan bunyi kerutup.

Tapi bukan soal bunyi saja yang membedakan rokok Bugis dengan rokok Jawa. Aroma dan rasanya juga jauh berbeda. Jika kretek beraroma cengkeh yang pedis, sementara ico ugi beraroma gula merah yang harum. Continue reading

JONNA DAN JONI: Pasangan Buta yang Membuka Mata Banyak Orang

INI SEBUAH makan malam dengan topik perbincangan yang hangat. Bertiga kami duduk melingkari sebuah meja makan bundar di salah satu restoran di Denpasar. Kebetulan kami dipertemukan oleh sebuah pertemuan Organisasi Masyarakat Sipil se-dunia guna mempersiapkan masukan untuk PBB menyangkut kelanjutan MDGs yang berakhir pada 2015. Ratusan aktifis sosial dari berbagai penjuru dunia hadir di sini. Dua diantara mereka benama Jonna Aman Damanik dan M Joni Yulianto, yang berasal dari dua organisasi pembela orang-orang penyandang disabilitas atau difabel.

Walau keduanya buta, aku tak melihat tongkat keduanya sejak tadi. Mungkin mereka memilih menyimpannya di tas punggung. Tadi, sewaktu kami memutuskan mengobrol di restoran ini, aku bangkit dan meraih lengan Joni bermaksud menuntunnya. Jonna juga berdiri. Ia memperbaiki tas ransel di punggungnya yang lebar lalu meletakkan telapak tangan kanannya di bahu kiri Joni yang kurus. Kamipun mulai melangkah beriringan.

Continue reading

HIKAYAT KEDALAMAN HIDUP ORANG-ORANG PEDALAMAN

SEORANG LELAKI TUA terbaring sakit di sebuah tempat tidur kayu yang berumur setua dirinya. Kalender di dinding papan bergambar partai politik tertulis 2013. Tepat 77 tahun silam saat ia dilahirkan. Kelahiran yang ditandai rasa was-was kata ayahnya suatu waktu saat ia berusia belasan. Desas-desus tentang sejumlah pengayau yang berkeliaran mencari kepala manusia untuk persembahan bertebaran menyiutkan nyali.

Selalu begitu, saat ada seorang maradika [bangsawan] meninggal, konon mereka butuh beberapa kepala untuk menemaninya di alam kubur. Hari itu, orang-orang menutup pintu rumahnya dan setiap lelaki dewasa akan berjaga-jaga.

Bayang-bayang masa lalu di kampung Namo berkelebatan. Kampung yang terletak di kecamatan Kulawi yang berbatasan dengan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Continue reading

HIKAYAT PEROKOK TUA MINAHASA

Namanya Bernard Welley, umur 72 tahun. Ia tinggal di desa Kolongan atas, kecamatan Sonder, kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Sewaktu aku menanyakan kapan pertama kali ia merokok, dengan bangga ia mengatakan,

“saya sudah merokok sejak SD!”

Aku tidak terkejut mendengarnya. Ini adalah fenomena yang banyak terlihat di desa-desa di Indonesia.

“Apakah bapak pernah sakit karena alasan rokok?” tanyaku.

“Tidak! Paling-paling saya sakit kalau sedang berada di hutan, Malaria.” Tawanya meledak karena ia tahu tak ada hubungan merokok dengan sakit malaria. Continue reading

HIKAYAT SEORANG ‘PALLAPI’ ARO’

Di usia 4 tahun ayah La Beddu meninggal. Saat itu, awal musim hujan di bulan Oktober 1952 baru saja turun. Salah satu kampung di Sidrap di jazirah Selatan Sulawesi, kabar duka itu membahana. Kakeknya, seorang guru mengaji di kampung itu memilih merawatnya. Ibu Beddu, I Nurung adalah anak perempuan gurutta—guru kita.

Di sana ia memiliki seorang kakak sepupu yang usianya terpaut sepuluh tahun. Namanya La Huseng. Sebagaimana gurutta mencintai I Nurung, yang baru ditinggal mati suaminya, si kakek juga amat menyayangi cucunya. Itulah mengapa guru berpesan kepada La Huseng agar menjaga La Beddu. Menjadi Pallapi aro atau pelindungnya Beddu dalam budaya Bugis. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [2]

BERSIHAR LUBIS: Pewarta yang membangun ‘theater of mind’ di kepala pembacanya.

Saat sarapan pagi, suasana ruangan mulai ramai. Dari balik dinding kaca kulihat seorang lelaki paruh baya berkemeja berwarna krem yang lembut. Wajahnya khas Batak. Begitu beberapa panitia menyambutnya dan kudengar suaranya lurus dan lugas, berdialek Batak. Kupastikan lelaki ini adalah Bersihar Lubis. Namanya tertera di lembar jadwal pelatihan yang dibagikan panitia. Aku tak mengenal wartawan senior ini. aku bertanya-tanya, wawasan kepenulisan seperti apa yang nanti akan ia bentangkan.

Bagi siapa saja yang pernah membaca artikel di Koran Tempo, edisi 17 Maret 2007 yang berjudul “Kisah Interogator yang Dungu” tentu tahu pasti siapa penulisnya. Ya, dialah Bersihar Lubis. Continue reading