HIKAYAT SEORANG ‘PALLAPI’ ARO’

Di usia 4 tahun ayah La Beddu meninggal. Saat itu, awal musim hujan di bulan Oktober 1952 baru saja turun. Salah satu kampung di Sidrap di jazirah Selatan Sulawesi, kabar duka itu membahana. Kakeknya, seorang guru mengaji di kampung itu memilih merawatnya. Ibu Beddu, I Nurung adalah anak perempuan gurutta—guru kita.

Di sana ia memiliki seorang kakak sepupu yang usianya terpaut sepuluh tahun. Namanya La Huseng. Sebagaimana gurutta mencintai I Nurung, yang baru ditinggal mati suaminya, si kakek juga amat menyayangi cucunya. Itulah mengapa guru berpesan kepada La Huseng agar menjaga La Beddu. Menjadi Pallapi aro atau pelindungnya Beddu dalam budaya Bugis. Continue reading

Advertisements

Menempuh Jalan Kepenulisan [3]

DANIEL DHAKIDAE: Menjadi Lebih Sekadar Pembaca Penikmat

Pada suatu hari di bulan April 1983. Tepatnya tanggal 16, M. Dawam Rahardjo, Ismid Hadad, dan Daniel Dhakidae diminta menghadap oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta. Ketiga cendekiawan kawakan Indonesia ini adalah pengelola Majalah Prisma, media rujukan dari banyak kaum intelejensia di Indonesia. Staf Kejaksaan Tinggi menginterogasi ketiganya.

Menurut penilaian Departemen Penerangan atas beberapa terbitan majalah Prisma era 1980an, majalah ini dianggap mempopulerkan beberapa tokoh kiri. Pandangan pihak kejaksaan bahwa Prisma sedang berupaya menggiring opini masyarakat untuk menerima kehadiran kembali Partai Komunis Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut seperti Cornel Simanjuntak dalam Prisma, No.2, Februari 1982; S.M. Kartosuwiryo dalam Prisma, No.5, Mei 1982; Aidit dalam Prisma, No.7, Juli 1982; Oerip Soemohardjo dalam Prisma, No.9, September 1982; dan tulisan Jacques Leclerc dalam Prisma, No.12, Desember 1982 yang berjudul “Aidit dan Partai Pada Tahun 1950” menjadi rujukan pihak Kejaksaan. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [2]

BERSIHAR LUBIS: Pewarta yang membangun ‘theater of mind’ di kepala pembacanya.

Saat sarapan pagi, suasana ruangan mulai ramai. Dari balik dinding kaca kulihat seorang lelaki paruh baya berkemeja berwarna krem yang lembut. Wajahnya khas Batak. Begitu beberapa panitia menyambutnya dan kudengar suaranya lurus dan lugas, berdialek Batak. Kupastikan lelaki ini adalah Bersihar Lubis. Namanya tertera di lembar jadwal pelatihan yang dibagikan panitia. Aku tak mengenal wartawan senior ini. aku bertanya-tanya, wawasan kepenulisan seperti apa yang nanti akan ia bentangkan.

Bagi siapa saja yang pernah membaca artikel di Koran Tempo, edisi 17 Maret 2007 yang berjudul “Kisah Interogator yang Dungu” tentu tahu pasti siapa penulisnya. Ya, dialah Bersihar Lubis. Continue reading

Menempuh Jalan Kepenulisan [1]

MARIA HARTININGSIH: Menulis Sebagai Rahasia Awet muda

Perjalanan ke bandara Hasanuddin basah dan getir. Genangan air memenuhi jalan raya nyaris sepanjang jalan Pettarani.“Semalam jalan ini jauh lebih parah,” ujar pengemudi taksi ini. Aku mengiyakan. Semalam aku juga menembus guyuran deras saat pulang ke rumah dari sebuh diskusi sesama dosen Ilmu Politik Universitas Teknologi Sulawesi. Sial, malam itu tak ada mantel hujan terbawa di motorku. Akupun kuyup menggigil sesampai di rumah.

Hari masih pagi di bandara yang hiruk pikuk.

Aku menuju mesin kopi. Memasukkan selembar uang senilai lima ribu rupiah. Menunggu sejenak proses penuangan kopi ke gelas plastik berwarna cokelat. Pandanganku tak luput sedikitpun dari kotak mesin itu. Yakin telah selesai, aku  merogoh dan meraih segelas kopi mengepul. Kebiasaanku meminum kopi selalu membauinya sebelum menyeruputnya. Continue reading

Mengenang Gurutta’ Aji Bolapatappuloe

Tiga lelaki tua sedang berkumpul di sebuah bale-bale bambu. Mereka saling mengenang masa lalu. Ada kalanya sebuah kenangan menggelakkan ketiganya karena kelucuan peristiwa atau kegetiran hidup yang telah berlalu. Tapi kali waktu mereka tertunduk menyebabkan dua bola mata mulai tergenang air mata.

Dihadapan ketiga tetua kampung ini, seorang pemuda duduk mendengarkan, sesekali bertanya. Ia mencatatkan detail peristiwa yang dianggapnya penting dan sesekali mengecek alat perekam yang tergeletak di antara ketiga orang tua ini. Ia belum lahir di masa-masa yang sedang dikenang ketiga orang tua ini.

Orang-orang ini sedang menyusun ingatan yang sekian puluh tahun tersimpan tak terkisahkan.

Mereka bernostalgia saat tahun 1953, seorang guru mengaji ke kampung mereka Bolapatappuloe kabupaten Pinrang dari kampung Majjelling, kabupaten Sidrap. Belakangan mereka menyebut guru itu, Guru Battoa atau guru besar. Mayoritas menyematkan nama Gurutta’ Bolapatapuloe atau Aji Bolapatappuloe. Dalam bahasa Bugis, Bolapatappuloe berarti ’empat puluh rumah’. Masih ada sapaan lainnya, yakni Aji Commo’ yang artinya haji yang gemuk mengingat tubuhnya yang memang subur. Sementara itu, dari kalangan kerabat sang guru, ia disapa Ajinna Aminah, yang merujuk pada anak putri pertama Gurutta’ yang bernama Aminah.

Continue reading

Sepasang Pencinta Kretek di Negeri Kincir Angin

Daun-daun maple beterbangan. Warnanya merah keemasan. Semuanya tampak jelas dari balik jendela perpustakaan Koninklijke Bibliotheek. Aku baru saja meraih sebuah DVD. Judulnya, ‘the girl in a café’. Aku tertarik dengan judulnya. Kata café dalam judul itu mengingatkanku pada sebuah kampung.

Kampungku jauh di pedalaman Pulau Sulawesi. Aku ingat, kau menyebut pulauku “a funny island.” Hari itu, saat pertama kali kita berkenalan di perpustakaan kampus. Mungkin karena asing dengan kata Sulawesi lantas kau memintaku membuka google earth. Kamu hanya tahu kalau Indonesia itu hanya Bali, dan seolah-olah Indonesia hanya memiliki satu pulau, pulau Bali.

Aku meraih tikus nirkabel ku dan membawa kursor ke desktop, mengklik ikon shortcut google earth dan memutar bola dunia ke kepulauan Indonesia. Aku melihatmu sekilas dan pandangannmu tertuju ke kepulauan nusantara yang membesar dengan kecepatan nyaris secepat se-klik-an jari telunjuk kananku menekan tuts bagian kiri. aku menunjuk pulau Sulawesi yang serupa huruf K dan kau mulai tertawa, dan bilang kalau pulauku bentuknya lucu.

“Kampungku ada di tengah pulau ini.” Aku memandangmu dan kau hanya mengangguk.

This is the mountain of Latimojong and I am living here.” Kamu Cuma bilang, nice dan masih mengangguk-angguk lucu. Rambut pirangmu yang bergelombang dan kulit pipimu yang putih bersih degan rona merah jambu membuatku bergumam dalam hati. “hm, aku benar-benar bersama cewek bule sekarang.”

Continue reading