MENCINTAI BUKU MENCINTAI KELUARGA

Oleh Ida Arianti Said

SEJAK memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, buku lalu menjadi media pelarian dari limpahan waktu yang tersedia di rumah. Saat itu, suamiku sedang menimba ilmu di negeri kincir angin di tahun 2006 (hingga Nopember 2007), aku dan anak lelakiku yang baru berusia 6 bulan tidur seranjang berdua. Tentu saja kerinduan kerap mendera. Apa lagi saat Mahatma Arrayyan, anakku, mulai bisa mengenali situasi sekelilingnya. Coba bayangkan jika sebagai seorang ibu kalian melihat anak lelakimu yang baru berusia setahun memandangi saudara sepupunya datang bersama ayah dan ibunya, dan ia tampak terdiam menyadari bahwa ada satu hal yang kurang di antara ia dan ibunya. Sesuatu yang ganjil yang tanggal dari mereka berdua, seorang ayah.

Continue reading