Hikayat Sabangka Sarope [2]

MATANAYO DI BUKIT SIOTAPINA

Slide1    Beberapa desa di perbukitan Sio[n]tapina adalah desa transmigran. Para transmigran menyebut desa mereka adalah SP yang berarti Satuan Permukiman. Jumlah SP bisa beberapa bilangan, semisal SP 1, SP 2 atau SP 3 dalam satu desa induk. Posisi SP ini bisa disebut setingkat dusun.

Desa Rojosari misalnya. Awalnya desa ini adalah SP 2 yang merupakan bagian dari desa induk, Siotapina, kecamatan Lasalimu Selatan. Berkat upaya keras dari para warga transmigran ini, khususnya bapak Aliafruddin trans asal Kendari kini wilayah mereka telah menjai desa. Sekitar enam tahun yang lalu, Pak Aliafruddin memilih pindah ke lokasi trans ini karena status tanah yang diberikan adalah hak milik. Status yang berbeda ia peroleh ketika ditempatkan di wilayah-wilayah terpencil tanpa infrastruktur di sekitar wilayah Bombana, hanya hak pakai saja.

Continue reading

Advertisements

Hikayat Sabangka Sarope [1]

JIKA MELAHIRKAN TAK LAGI DI RUMAH

Apa jadinya jika di suatu desa yang selama ini warganya mematuhi aturan adat tiba-tiba harus dihadapkan pada pilihan meninggalkan adat?

Warga Kampung Bugi Kecamatan Sarawolio Kota Baubau Sulawesi Tenggara masih memanggul adat. Sejak lama orang-orang Buton menjalani hidupnya di bawah aturan adat dan agama Islam yang saling berkelindan nyaris tanpa benturan sosial. Salah satu nilai yang mereka masih anut adalah bahwa jika seorang perempuan melahirkan, maka hendaknya ia melahirkan anak di rumahnya dan bayi yang telah lahir tak boleh keluar rumah sebelum melewati usia 8 hari. Jika berani melanggar nilai ini, maka akan terjadi hujan badai yang melanda kampung dan merugikan banyak orang. Untuk menghindarinya, para dukun beranak di kampung ini akan selalu sedia menemani sang ibu saat persiapan, melahirkan, dan di masa nifas.

Continue reading